Sabtu, 02 April 2011

Arti Tanggung Jawab

Pucangan, 2/4/2011.

Beberapa hari ini saya jarang meluangkan waktu untuk bertatap muka dengan laman ini. Pun demikian , banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai dari tidak mood-nya dalam menulis, males dan sibuk bercanda tawa dengan teman teman di sekitar. Saya kira saya telah berlebih tergelincir dalam kenikmatan sementara. Kenikmatan merajut horizontal conecction bersama teman sejawat. Dan syukurlah, hari ini saya menyadari akan kecerobohanku. Tiada niat tuk mengatakan engkau, teman-temanku, sebagai penyebab atas ini semua. Ini murni adalah kesalahanku.
Sungguh, banyak peristiwa yang sangat berharga yang terjadi. Dan sayang sekali saya tak dapat menulisnya di laman ini. Hanya sekedar dapat menyaksikan, merasakan dan mengingatnya. Meski sayapun tahu ini tak akan bertahan lama tersimpan dalam MMC ku. Sangat disayangkan.

Saya, demi diri sendiri, hari ini tak boleh kecolongan lagi. Kecolongan untuk kesekian kalinya. Kecolongan tak mengabadikan peristiwa. Baik yang saya alami sendiri maupun yang tidak. ya meski tulisanku masih sangat bisa dibilang biasa.

Iya thow.........



********

Hari ini, Sabtu, pukul 14:30 WIB. Diskusi ringan itu mencuat. Diskusi biasa. Diskusi yang agak membuat dia bingung akan memaknai kata itu. Kata yang mengandung luar biasa maknanya. Diskusi itu bertajuk  "Tanggung Jawab".

Ada kejanggalan dalam otakku. Ada yang senang akan tanggung jawab, sampe-sampe menghalalkan segala cara tuk dapatkannya dan ada pula yang enggan memikulnya. Pada hal dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa Allah telah menunjukkan kedemokratisannya menawarkan tanggung jawab kepada makhlukNya. Tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Di antara makhluk yang ditawariNya adalah gunung, laut, bumi, malaikat, jin dan yang terakhir adalah manusia. Makhluk yang pertama enggan akan akibat yang diterima jika berkhianat. Ia takut akan ketidak mampuannya memikul amanat itu. Makhluk yang kedua dan ketiga berpikiran sama, tak mengambil tawaran itu. Sedang malaikat yang tak bisa dipungkiri akan keamanatannya dalam menjalankan perintahNya pun angkat tangan mengenai hal ini. Jin pun bersifat laiknya malaikat. Menyerah sebelum bertanding, tak mampu menanggung akibat yang diterima, jika berkhianat.

Akan tetapi di luar dugaan, makhluk yang berani mengambil dan memikul tanggung jawab itu adalah manusia. Manusia yang diragukan oleh semua makhluk menjalankan amanat sebaik-baiknya. Entah alasan apa yang dimiliki manusia sehingga ia berani mengajukan diri tuk menerima tawaran itu. Akankah manusia tak sadar diri akan kemampuannya. Dan apakah manusia tak memaklumi akan akibat yang akan diterimanya, jika ia berkhianat. Sungguh di luar perhitungan.

Saya merelevansikan hal di atas dengan apa yang dialami teman saya. Ia yang mengatakan tak mampu manggul tanggung jawab. Ini merupakan hal yang sulit untuk disinkronkan. Dari pengalaman di atas, manusia sangat yakin akan kemampuannya dalam menjalankan amanat tuk memikul tanggung jawab itu. Akan tetapi di pihak lain manusia sungguh takut akan dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut.

Dia dibelikan Netbook orang tuanya. Orang tuanya sangat mengasihi dan mencintainya. Saya punya tafsir sendiri kenapa saya bisa mengatakan demikian karena meski tiada permintaan dari Si anak, mereka memenuhi apa yang dibutuhkan mahasiswa pada umumnya. Karena dia adalah mahasiswa di PTAIN.
Ingat, bukan berarti jika anak meminta, orang tua tak mengasihi dan mencintai anaknya, laiknya saya. Mana ada sih orang tua tak mencintai dan mengasihi anaknya. Saya kira tak mungkin itu. Namun jika ada, sungguh tega nian orang tua kalau tak berbuat demikian, mengasihi dan mencintai anaknya.

Saat membelikannya Netbook, mereka, orang tua, memberitahu akan konsekuensi nya “kalau ada keruskan pada Netbook, maka itu adalah urusanmu. Karena itu adalah milikmu. Bapak ibu sudah tak mau lagi ikutan nanggung biayanya,  jika ada kerusakan ”, orang tuanya memperingatkan. Diapun meneropong masa depan. “Kula gak pengen ngrepoti jenengan”, dia berujar dalam hati. Kira-kira demikian ujarnya. Menurut taksiranku. Dia, yang mempunyai jiwa baik hati, tak mau merepotkan orang tuannya, khawatir akan keruskan benda mahal itu. Ia berfikir "Bagaimana saya dapat ngrumati benda ajaib itu jika saya belum bekerja. Lebih-lebih kalau benda itu error. Berapa banyak duit yang akan keluar. Kan benda itu jadi milikku sepenuhnya". Maka ia pun memutuskan tuk menjual benda itu. Meski dengan berat hati, saya pikir.

Ada hal menarik yang sangat mendidik yang ingin ditanamkan mereka kepada anaknya, jika saya amati apa yang terjadi pada dia. Mereka ingin dia menjadi orang yang amanat. Bertanggung jawab dengan apa yang dimiliki. Memberitahu akan konskuensi tentang apa yang akan diterima jika ia mempunyai sesuatu. Dan saya kira mereka ingin menguji anak-anaknya menjadi yang demikian. Akan tetapi, sayang sekali. Dia, temanku, belum menyadari kalau ia sedang diuji oleh kedua orang tuanya.



Kata dariku, tuk diriku sendiri dan teman jika seiya.

“Jika takut akan besarnya tanggung jawab yang dipikul secara berlebihan, kayaknya akan berefek negatif ke masa yang akan datang. Seperti sikap minder, tidak pede dan takut akan menghadapi masalah yang akan didapat di kemudian hari. Wajar memang jika kita takut, tapi tak seyogyanya jika sangat berlebihan".

"Kerjakanlah sebaik-baiknya dan pasrahkanlah semuanya kepada Sang Penggenggam jagad ini”.

“Untuk menjadi orang besar, kita wajib dibenturkan dengan tanggung jawab yang besar”.

Semua ini hanya taksiranku lhow yaw........ 



Pukul 20:45 WIB