Selasa, 09 November 2010

Si “Maha Guru” yang sulit kami mengerti


Selasa  9/11/'10, jam 07:15, aku lewati dengan agak berat, dimulai dari kuliah Si “Maha Guru”, sedulur-sedulur memanggilnya,  yang aku ketika presentasi  harian mendapat  tegurannya, karena presentasi yang aku sampaikan tidak dilanjutkan dengan sesi pertanyaan, pemberian masukan, tanya jawab dan lain sebagainya. Padahal, presentasi yang dilakukan sebelum aku tidak ada sesi-sesi seperti yang telah aku lakukan, memang sih presentasi sebelum aku tidak dihadiri Si “Maha Guru”. Persepsiku, sedulur  semua sudah  paham materi yang aku presentasikan karena sebelumnya sebagian besar dari mereka telah menyampaikannya, jadi buat apa aku beri kesempatan tuk bertanya (padahal emang takut ditanya, hahahahaha), kan malah buang-buang waktu, pikirku.  Ternyata, apa yang aku pikirkan salah kaprah dengan keinginan dari Si ”Maha Guru”,  Dia berharap aku dan sedulur menyampaikan presentasi seolah-olah  seperti  gayanya guru sedang menerangkan materi ajar kepada siswanya. Memang, akupun juga mengakui ,aku khususnya, membutuhkannya, ya itung-itung pengalaman gimana menyampaikan, menjelaskan  materi  kepada siswa.  Akan tetapi dia, dengan pembawaan yang dingin tapi terkadang juga hangat(emang sulit tuk dipahami), telah hipnotis aku dan sedulur-sedulur sehingga membuat mati kutu tak ada daya kita semua,,,,
Akhirnya ke”kaku”an anggota tubuh kami  dicairkan dengan adanya makul(baca; mata kuliah, haha) mr. munadi, penghilang stress (kata sedulur, tapi kalo dipikir emang ada benernya sich, hahahahaha), dia buat otak dan pikiran kita setengah-setengah, kadang serius tapi kadang juga buat ketawa (tapi banyakan ketawanya dari seriusnya,,,,hahaha) mungkin hanya dengan cara itu dia ingin mengenal lebih dekat dengan kami ,mahasiswanya,. Ada peristiwa dimana membuat kita tegang yaitu ketika mr. munadi menyuruh kita mengeluarkan fathurrahman  dan buku curriculum foundation ,yang tebelnya naudzubillah min dzalik, dan membuat peringatan bagi siapa saja yang tidak membawa maka dipersilahkan keluar, tapi syukurlah semua itu cuma berlaku di mulut saja untuk hari ini, karena aku juga tahu dia masih memberi  toleransi  kepada  kita. Sebagian dari kita tidak membawa ya karena tebel sich bukunya, kan jadi berat tasku, ”kata saudaraku”.  Tapi pastinya aturan tersebut akan berlaku di pertemuan yang akan datang, semoga.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar