Rabu, 16 Maret 2011

Susahnya Membujukmu


10-3-11, saat gairah hidup menipis.
 Otakku berputar laiknya roda. Berputar terus menerus tiada henti. Berpikir akan sebab yang diutarakan Mr. Y, Si Biro Skripsi.
Mungkinkah judul ditolak hanya gara-gara lupa pemain utama dari film itu?
Bukankah substansi sebuah film itu dari nilai-nilai yang tersirat?
Dan juga tersurat, pastinya. Mungkinkah nama aktor utama juga termasuk penting?
Toh masak tak ada kompensasi sedikitpun akan kealpaan memoriku dalam mengingat nama pemerannya. Sangkaan yang berderet-deretpun berbaris berurutan di otakku.
Kemarin,<9/3/11>, hatiku remuk redam. Lantaran judul yang kurangkai ditolak lagi.  Beberapa judul yang aku idam-idamkan akan diACC hanya tinggal kenangan belaka. Tapi agak sedikit menggembirakan ketika ada satu judul yang dilirik kedua bola matanya. Judul yang mengangkat “Nilai-nilai yang terkandung dalam film Kun fayakun”. Akan tetapi kesumringahan wajahkupun hanya bertahan sebentar, ketika aku ditanya tentang nama asli pemain utamanya. Aku menggeleng tanda akan tak maklumnya aku. Aku blank. Aku  lupa.
Beberapa alasankupun aku luncurkan tuk mempertahankan ketidaksengajaanku tuk melupakan nama aktor  itu. Tapi kengototanku dalam mempertahankan alasanku pun digunakannya tuk memukulku mundur. Mundur agar tak melanjutkan meneliti film itu.
Apa itu hanya gertakan sambal agar tak melanjutkan meneliti film tersebut? Pikirku, jika itu hanya gertakan, berarti aku masih punya kesempatan tuk melanjutkan meneliti film itu lebih mendetil. Akan tetapi jika tidak ,maka akan ku cari film atau judul baru. Ku kira masih banyak judul yang berada di luar sana.
Penyesalan akan ketidaksungguhanku dalam mempelajari film itu hinggap di kepalaku. Kenapa aku tak mempelajari apa-apa yang terdapat di dalam film itu. Menyesal mesti selalu ada di belakang, ujarku dalam hati. 
Dalam bayanganku, jika beberapa judul tersebut ada yang disetujui, maka aku akan melanjutkan kesungguhanku dalam meneliti, menelaah judul yang sudah pasti disetujui tersebut. Tapi itupun hanya dalam anganku saja. Si Biro menginginkan mahasiswa agar membaca, menelaah dan meneliti terhadap apa yang akan diajukan menjadi judul secara inten.
Aku akui akan ketololanku. Di otakku tak terbersit sedikitpun untuk menelaah secara sungguh-sungguh. Sungguh di luar dugaan. Tapi, mungkinkah akan seperti ini nasib yang akan diterima kalau cewek yang berada pada posisiku. Mungkin akan sedikit berbeda. Karena dalam merayu cowok, cewek punya trik tersendiri. Trik yang mampu menggoyahkan pendirian cowok. Sebaliknya pun cowok merayu cewek.




<16/3/11>

Pukul, 20:45 WIB. Menjelang kembali ke kost.


Selasa, 15 Maret 2011

Hanya Sebatas Mendengar

Selasa,<15/3/2011> di sore menjelang senja.



Seperti biasanya. Dengan orang yang sama. Di suasana yang sama. Ya meski dengan kelas yang berbeda. Dan mata kuliah jilid kedua. Melanjutkan jilid pertama kemarin,materi PAI. Tapi tetep diampu oleh Bu Nyai , yang berpenampilan menyejukkan hati, Hj. Tasnim.

Meski jarum jam masih setia berada di angka sepuluh tiga puluh. Saya kira, untuk jam segitu masihlah dapat digolongkan pagi. Tapi entah mengapa, semangatpun tak dapat menyala-nyala. Layaknya spiritnya kaula muda. Terbukti ketika ditawari untuk menunjukkan kebolehannya dalam mengingat ka’idah-ka’idah ushul fiqh yang sudah dipelajari di semester dulu. Ka’idah yang didapatkan dalam program yang diadakan oleh pihak jurusan Tarbiyah, P3kmi. Salahsatu Program yang digunakan setidaknya untuk menunjang mutu mahasiswa. Dengan semangat yang seadanya. Kita mengikuti makul tersebut. Sederet pertanyaanpun menghampiri.   

Apa benar mereka juga sudah merasa tua???

Apa memang mereka bingung akan menulis kalimatnya???

Atau apa mereka memang tak mau dikatakan sombong??

Kalau iya, mulia benar hati mereka. Tawadhu’nya tinggi sekali.

Kalau saya, memang sudah agak tua. Jadi wajar jika tak punya greget untuk menyala. Ya pastinya ini adalah argument yang tak terbantahkan. Dan untuk menghindarkan diri dari tuduhan atas ketidakadanya nyali untuk maju.

Selalu dan menjadi makanan wajib untuk kita. Kita diingatkan kembali untuk bermuhasabah. Bermuhasabah tentang apa yang telah dikerjakan. Mengkalkulasikan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ritual wajib yang di lakukan setiap hari, sholat. Jika difikir dan mau mengigat ulang apa yang telah dilakukan. Tentu kita akan malu pada diri sendiri. Tapi ini adalah keharusan untuk mengikutinya.

Secara tak sadar, sebenarnya kita sedang digiring untuk menyuluk dalam menggapai ridho Ilahi juga menjadi insan kamil, manusia yang sempurna. Sayang tak banyak diantara kita yang menyadari akan maksud Sang ibu itu. Semuanya hanya dianggap angin lalu. Setelah mendapat kesejukan, hilanglah angin tersebut. Mungkin dalam membungkus apa yang disampaikan kurang menarik. Sehingga kurang menarik minat kami untuk mendengarkan, memahami dan pastinya mengamalkannya. 

Sedikit yang saya ingat,”kalu kita memang mengaku hamba Allah, kenapa kita enggan melaksanakan apa yang diperintahkanNya dan tentunya menjauhi laranganNya”, ujarnya.

“Roja' dan Khoufpun juga harus seimbang, jika tidak kita akan lena dalam mengartikan Rahman RahimNya Allah yang Maha Segalanya”, beliau menambahkan.

Jujur  bu, kami belum sanggup untuk melaksanakan seperti apa yang diharapkan ibu tak terkecuali saya. 
Saya yang masih suka akan kesementaraan. Akan tetapi saya yakin, suatu saat nanti pastinya mereka akan menyadari akan hal tersebut.





Ma’afkan kami, khususnya saya, yang tak terlalu memperhatikanmu ibu.





 Pukul, 17:55, menjelang maghrib.


Jumat, 04 Maret 2011

Kemana Arah Tulisan Ini


Jam 20:30 WIB, dingin merasuk. <4-3-2011>

Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku sendiri. Partner yang biasa di sampingku kini berada di Sukoharjo, rumah Ortu yang empunya Nit Nit. Ikut menyemarakkan acara di sana. Aku kesepian. Di tempat sana diadakan hajatan. Hajatan apa aku tak tahu pastinya.
Sudah berulang kali Aku buka Efbe. Tapi kenyamananpun hanya terasa sekejap. Memang banyak teman yang berada dalam obrolan, tapi hanya beberapa gelintir yang aku kenal.   
Kubuka KOMPAS.com, tapi isi beritanya hanya membahas itu-itu saja.
Berita dari sudut politik nasional. Dimulai dengan politik yang bertele-tele dan entah kemana arahnya. Ribut tentang koalisi. Antara Demokrat dengan Pks dan Golkar. Golkar dan Pks yang dituding tak seiya sekata dalam menentukan diadakannya angket Century dan angket mafia pajak. Dilanjutkan atau tidak koalisi yang telah terjalin dari tahun kemarin. Dikabarkan pula kini Gerindra akan menggantikan posisi partai koalisi itu. SBY pun sudah memastikan jika Gerindra yang akan menggantikan posisi mereka. Sayang tak bisa Aku bahas panjang lebar. Karena Aku memang tak terlalu mudeng akan masalah ini.
Dari Regionalpun diramaikan berita akan langkanya tabung gas isi ulang di daerah Kaur, Bengkulu. Ini hanya satu diantara tumpukan berita yang menyesakkan dada.
Apa mereka, orang yang berpakaian parlente, tak tahu apa yang dirasakan rakyat. Rakyat yang masih kesulitan dalam menikmati hidup. Sungguh tak peduli akan nasib juragan mereka, yaitu rakyat.
Berita internasionalpun masih sibuk memberitakan kepemimpinan  Sang pemegang kekuasaan, Mu’ammar khadafi. Pemimpin yang diumpamakan sebagaimana Hitler, presiden jerman kala itu. Hingga kini ia belum mau turun dari jabatannya. Masih mengekeuhkan tampuk kekuasaanya di Negara arab sana, Lybia. Duniapun dibuat bingung akan tingkahnya. Dan masih banyak lagi kisah yang menyedihkan.  
Dan kesepianpun akan terulang kembali esok hari. Berbekal duapuluh ribu. Aku akan bertahan. Aku bakal menikmati hari esok dengan nangkring di atas kursi merah hingga larut.

Dan kantukpun mulai menyerang. Matapun mulai berat untuk dibuka.
Aku sudah tak kuat lagi. Aku sudahi tulisan yang tak tahu bakal mengalir kemana.


Pukul 21:35 WIB, menjelang pulang

Kamis, 03 Maret 2011

Hey, Jangan-Jangan Kita Kafir


Tanggal, 1-3-’11, di Nit Net.
Guyuran air hujan membasahi desa pucangan. Kurang lebih sudah tiga hari ini. Ada yang bilang sudah seminggu ini malah.  Inilah manifestasi Rahman Rahim-nya Allah. Ya  meski banyak yang mengingkari akan ni’mat yang diberikan. Kitapun harus mawas diri. Kita hidup di jagad Nya, mestinya kita juga harus menerima apa yang diperbuatnya. Kita juga harus mentaati tata tertib yang telah ditentukanNya. Senang dengan aturan tersebut atau tidak. Menginap di hotel. Selayaknya, kita harus menghormati tetangga kita. Kita juga harus mentaati tata tertib yang telah dibuat oleh manager. Kita tak bisa berbuat seenaknya. Hal demikian tentulah sering kita dengarkan. Tentu kita juga sering mengabaikannya. Ingat-ingat lagi kawan.
Tulisan berikut ingin…………………..
Ternyata lampunya oglangan<mati>
Berlanjut di episode selanjutnya…

**************


Tanggal, 2-3-’11, masih setia.
Beberapa hari ini akupun dibayangi bermacam kekhawatiran. Mulai dari diterima atau ditolaknya judul yang kuajukan. Hingga kegelisahan yang tak menentu. Berharap sangat judulku akan diterima. Namun jika tidak, ya harus bagaimana lagi. Akupun jua tak papa. Toh banyak juga yang menelan kekecewaan lantaran ngajuin judul yang tak kunjung diACC. Kriteria yang bagaimana yang diinginkan oleh Biro Skripsi. Tak ada seorangpun yang tahu, entahlah. Apa benar aku harus pakai jilbab dulu, gumamku dalam hati. Hush, jangan ngomong kayak gitu. Banyak pertanyaan yang berderet di otakku. Kenapa Biro-nya hanya seorang??? Kemana dosen-dosen yang lain???. Kenapa kita tak boleh mengajukan judul yang sama dengan Mahasiswa sesudah kita, toh pastinya gak akan sama isinya, kalau tak ngopy paste, pastinya???? Kalau memang menjadi Biro, kenapa tak hanya menjadi Biro saja???? Tak usah ngrangkap menjadi Pembimbing atau penguji segala. Kan biar lebih fokus ngurus Skripsi yang diajukan. Ya ini semua hanya akan terpendam dalam hatiku. Tak mengapa. Akupun sudah senang sudah berfikir demikian.

**************

Tanggal, 3-3-’11, siang menyengat. Melanjutkan coretan tertanggal 1-3-’11.
……..Niatku ingin menguraikan kembali pengertian tentang “Kafir”. Dulu sempat disinggung “Bapak”, K.H. Aminuddin Ihsan. Tapi sepertinya Aku lupa akan hal itu. Dan sekarang, oleh Emha Aku diingatkan kembali akan pengertian kata tersebut. Apa arti sebenarnya. Apa benar kafir hanya diartikan orang yang tidak mempercayai Allah dan Rosul-Nya. Berikut uraianku,,,,,,,
Kafir dari sudut terminology berarti orang yang menutupi, menyembunyikan sesuatu atau tidak berterima kasih atau juga sangat boleh diartikan mengingkari nikmat.
Seperti yang diungkapkan wiwiet dalam Blognya, Bahwa:
Dalam al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk disebut sebanyak 525 kali.
Kata kafir digunakan dalam al-quran berkaitan dengan perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan,  seperti :

1)      Mengingkari nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya
(QS.16:55, QS. 30:34)
2)      Lari dari tanggung jawab (QS.14:22)
3)      Menolak hukum Allah (QS. 5;44)
4)      Meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44)

Setelah aku membayangkan. Aku sungguh malu akan tingkahku. Kalau Anda waras dan Anda berpikir secara jernih maka Anda pasti akan merasakan apa yang kurasakan.
Dari itu semua, masih patutkah kita mengatakan bahwa orang lain kafir????????
Kalau iya, sungguh keterlaluannya.
Meski ini semua hanya pengertian secara terminology. Apa kita hanya memandangnya dengan sebelah mata.

Boleh setuju boleh tidak, terserah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!