Selasa,<15/3/2011> di sore menjelang senja.
Seperti biasanya. Dengan orang yang sama. Di suasana yang sama. Ya meski dengan kelas yang berbeda. Dan mata kuliah jilid kedua. Melanjutkan jilid pertama kemarin,materi PAI. Tapi tetep diampu oleh Bu Nyai , yang berpenampilan menyejukkan hati, Hj. Tasnim.
Meski jarum jam masih setia berada di angka sepuluh tiga puluh. Saya kira, untuk jam segitu masihlah dapat digolongkan pagi. Tapi entah mengapa, semangatpun tak dapat menyala-nyala. Layaknya spiritnya kaula muda. Terbukti ketika ditawari untuk menunjukkan kebolehannya dalam mengingat ka’idah-ka’idah ushul fiqh yang sudah dipelajari di semester dulu. Ka’idah yang didapatkan dalam program yang diadakan oleh pihak jurusan Tarbiyah, P3kmi. Salahsatu Program yang digunakan setidaknya untuk menunjang mutu mahasiswa. Dengan semangat yang seadanya. Kita mengikuti makul tersebut. Sederet pertanyaanpun menghampiri.
Apa benar mereka juga sudah merasa tua???
Apa memang mereka bingung akan menulis kalimatnya???
Atau apa mereka memang tak mau dikatakan sombong??
Kalau iya, mulia benar hati mereka. Tawadhu’nya tinggi sekali.
Kalau saya, memang sudah agak tua. Jadi wajar jika tak punya greget untuk menyala. Ya pastinya ini adalah argument yang tak terbantahkan. Dan untuk menghindarkan diri dari tuduhan atas ketidakadanya nyali untuk maju.
Selalu dan menjadi makanan wajib untuk kita. Kita diingatkan kembali untuk bermuhasabah. Bermuhasabah tentang apa yang telah dikerjakan. Mengkalkulasikan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ritual wajib yang di lakukan setiap hari, sholat. Jika difikir dan mau mengigat ulang apa yang telah dilakukan. Tentu kita akan malu pada diri sendiri. Tapi ini adalah keharusan untuk mengikutinya.
Secara tak sadar, sebenarnya kita sedang digiring untuk menyuluk dalam menggapai ridho Ilahi juga menjadi insan kamil, manusia yang sempurna. Sayang tak banyak diantara kita yang menyadari akan maksud Sang ibu itu. Semuanya hanya dianggap angin lalu. Setelah mendapat kesejukan, hilanglah angin tersebut. Mungkin dalam membungkus apa yang disampaikan kurang menarik. Sehingga kurang menarik minat kami untuk mendengarkan, memahami dan pastinya mengamalkannya.
Sedikit yang saya ingat,”kalu kita memang mengaku hamba Allah, kenapa kita enggan melaksanakan apa yang diperintahkanNya dan tentunya menjauhi laranganNya”, ujarnya.
“Roja' dan Khoufpun juga harus seimbang, jika tidak kita akan lena dalam mengartikan Rahman RahimNya Allah yang Maha Segalanya”, beliau menambahkan.
Jujur bu, kami belum sanggup untuk melaksanakan seperti apa yang diharapkan ibu tak terkecuali saya.
Saya yang masih suka akan kesementaraan. Akan tetapi saya yakin, suatu saat nanti pastinya mereka akan menyadari akan hal tersebut.
Ma’afkan kami, khususnya saya, yang tak terlalu memperhatikanmu ibu.
Pukul, 17:55, menjelang maghrib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar