Jumat, 04 Maret 2011

Kemana Arah Tulisan Ini


Jam 20:30 WIB, dingin merasuk. <4-3-2011>

Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku sendiri. Partner yang biasa di sampingku kini berada di Sukoharjo, rumah Ortu yang empunya Nit Nit. Ikut menyemarakkan acara di sana. Aku kesepian. Di tempat sana diadakan hajatan. Hajatan apa aku tak tahu pastinya.
Sudah berulang kali Aku buka Efbe. Tapi kenyamananpun hanya terasa sekejap. Memang banyak teman yang berada dalam obrolan, tapi hanya beberapa gelintir yang aku kenal.   
Kubuka KOMPAS.com, tapi isi beritanya hanya membahas itu-itu saja.
Berita dari sudut politik nasional. Dimulai dengan politik yang bertele-tele dan entah kemana arahnya. Ribut tentang koalisi. Antara Demokrat dengan Pks dan Golkar. Golkar dan Pks yang dituding tak seiya sekata dalam menentukan diadakannya angket Century dan angket mafia pajak. Dilanjutkan atau tidak koalisi yang telah terjalin dari tahun kemarin. Dikabarkan pula kini Gerindra akan menggantikan posisi partai koalisi itu. SBY pun sudah memastikan jika Gerindra yang akan menggantikan posisi mereka. Sayang tak bisa Aku bahas panjang lebar. Karena Aku memang tak terlalu mudeng akan masalah ini.
Dari Regionalpun diramaikan berita akan langkanya tabung gas isi ulang di daerah Kaur, Bengkulu. Ini hanya satu diantara tumpukan berita yang menyesakkan dada.
Apa mereka, orang yang berpakaian parlente, tak tahu apa yang dirasakan rakyat. Rakyat yang masih kesulitan dalam menikmati hidup. Sungguh tak peduli akan nasib juragan mereka, yaitu rakyat.
Berita internasionalpun masih sibuk memberitakan kepemimpinan  Sang pemegang kekuasaan, Mu’ammar khadafi. Pemimpin yang diumpamakan sebagaimana Hitler, presiden jerman kala itu. Hingga kini ia belum mau turun dari jabatannya. Masih mengekeuhkan tampuk kekuasaanya di Negara arab sana, Lybia. Duniapun dibuat bingung akan tingkahnya. Dan masih banyak lagi kisah yang menyedihkan.  
Dan kesepianpun akan terulang kembali esok hari. Berbekal duapuluh ribu. Aku akan bertahan. Aku bakal menikmati hari esok dengan nangkring di atas kursi merah hingga larut.

Dan kantukpun mulai menyerang. Matapun mulai berat untuk dibuka.
Aku sudah tak kuat lagi. Aku sudahi tulisan yang tak tahu bakal mengalir kemana.


Pukul 21:35 WIB, menjelang pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar