Jumat, 25 Februari 2011

Telah Sempurna Imannya

Pukul 20.00, Nangkring di atas kursi merah.

Kini sempurnalah imannya. Separuh iman yang hanya bisa dilengkapai dengan menikah.
Hal yang sejalan dengan hadist Rosulullah, “Sempurnakanlah sebagian imanmu dengan menikah”. Kurang lebih demikian bahasa umumnya. Bahagia sungguh aku kira. Bukan hanya mereka tetapi kita semua juga turut bersuka cita. Meski kami tak dapat mensyahadahi pernikahan mereka. Dan kami hanya melihat bapak penghulu yang menggeloyor pergi mengendarai motornya. Pastilah masih banyak anak adam yang menanti yang harus ia nikahkan.
Sedulurku kini sudah tak lajang lagi. Setelah akad yang diadakan di Banaran, Sragen tadi pagi, <25/2/2011, pukul 09:45>. Khabar itupun mengejutkanku. Khabar yang di utarakan lewat sepotong pesan singkat. Pesan yang berirama kearab-araban. Peristiwa yang sulit Aku percaya. Karena beberapa waktu yang lalu Aku smsan dengan mempelai wanitanya. Hanya sekedar sms biasa. Dia menampik akan terjadinya hal ini, pernikahan. Dia berucap kalau dia tidak pantas jika harus dengan dia. Walau tak percaya, tapi inilah yang terjadi. “Kui gur disiapke telung dino thok og mas (itu hanya dipersipkan tiga hari saja kok)”, akui salah satu tetangga. Setelah Aku Kroscek. Waktu untuk  mempersiapkannya adalah lima hari. Meski demikian Aku kira itu adalah waktu yang amat singkat. Tapi meskipun begitu Aku kira semua itu memang sudah ada yang mengaturnya. Apa ini yang namnya kun fayakunnya  Sang Gusti, entahlah. Aku melambungkan anganku tinggi. Jika Aku yang dalam pernikahan tersebut, pastilah mamakku akan menyemburku dengan serentetan argumentasi yang akan membuat rambutku kriting. Untunganya bukan Aku yang berada di posisi tersebut.
Ku akui tak selamanya kita dirundung kebahagiaan. Tentunya kesedihanpun pasti juga menghampiri kita. Ya meski itu tak pernah terlintaskan di benak kita. karena kita tak bisa memprediksikannya.
Sehabis acara akad nikah. Saudariku, dengan tak segaja pastinya, kecelakaan. Walau hanya lecet. Tapi Aku pikir itu akan membekas. Tak hanya di dalam tapi luar pun juga otomatis. Sedikit kata yang Aku katakana tuk menghibur saudariku,”Engkau bertambah cantik karena diasesorisi sedikit kaligrafi alami yang terbentuk tadi pagi.”
Ya meski agak sedikit ngapusi, tapi tak apalah. Pastinya kata itu dapat menjadi penghibur dan membuat dia agak tersenyum dan terbang.  
 
Selamat menempuh hidup baru kawan, Both of you.
Tiada seindah kado selain do’a. dan Aku hanya dapat mendoakan.
semoga ,menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.



Pukul 21: 30, Menjelang tutup.


Kamis, 24 Februari 2011

Petuah Yang Indah


2/24/2011, Menjelang Isya’

Jarum jam merangkak menuju angka tujuh dan tiga. Menunjukkan waktu isyak telah tiba.
Teringat akan nasehat yang disampaikan sosok guru kharismatik yang kucintai dan ku kagumi, Emha Ainun Nadjib. Dengannya Aku belajar kea’rifan hidup, mencintai makhluk dengan bermacam-macam ras, suku dan agama dan mengakrabi Sang Pemegang Jiwa, Allah SWT.
Hatiku senang bukan main ketika Aku mendapati YouTube video Emha saat memberi pencerahan. Sungguh beruntung Aku. Kalau bukan karenaNya, Aku tak kan menemukannya. Syukron katsir Allahku.
Memang tepat kalaulah pepatah zaman dulu mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dan baru sekarang Aku mengerti akan maknanya. Tentu saudara yang belum mengetahui juga penasaran akan makna yang dikandung kata-kata tersebut. Berikut coba Aku uraikan atas apa yang kupahami. Dan Andapun sah sah saja tuk tak percaya akan interpretasiku.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Artinya ketika kita melakukan apapun niatilah bahwa kita menuntut ilmu. Meski itu berwujud pekerjaan. Karena cara menuntut ilmunya orang yang bekerja adalah dengan bekerja itu sendiri. Jangan hanya niat mencari uang. Karena uang akan mudah didapat. Bingung……..!!!!!
“Menjadi keeper Warnet. Ketika Engkau sepakat untuk bekerja dan akan mendapat gaji sebanyak sekian kalau bekerja selama sebulan. Maka di hari itulah Engkau dipastikan akan mendapat Uang sebagai gaji. Jadi usahlah Engkau bingung akan mencari uang. Untuk 30 hari kedepan, alangkah baiknya kalau diniati menuntut ilmu. Karena sejatinya Engkau tidak hanya mendapatkan letih, jenuh atau apapun. Engkau akan mendapatkan ilmu”.
Itulah konsep berfikir yang salah. Dan harus kita linierkan. Tapi ingat, yang akan diperbuat haruslah hal yang bermaslahat. Tanpa Aku sadari, ternyata hal ini relevan dengan sabda Rosul yang menyatakan bahwa “Kalau Engkau fokus mencari dunia maka yang akan Engkau dapatkan hannyalah dunia yang tak seberapa. Dan jika Engkau niatkan mencari ilmu maka Engkau akan mendapatkan dua-duanya; dunia dan akhirat”.


Ma'afkan jika tak memafhuminya..




Pukul 21:20 WIB, Masih setia di Pangkalan.

Senin, 21 Februari 2011

Cerita Hari Ini

21/februari/2011, Menjelang Senja.

Sudah lama Aku tak bercorat-coret di atas kertas putih ini. Tadi pagi, 9:30 kembali lagi syekh Munadi mendobrak-dobrak alam kesadaran Mahasiswa untuk giat dalam membaca dan menulis. Agar dalam menulis Skripsi tak menemui kendala dalam merangkai kata. Selalu dan selalu. Tiada bosan-bosannya kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Setelah dicharge sindiran yang bertubi-tubi, Nafsuku dalam mengkomposisikan kata ingin ku mulai lagi. 


******************

Sudah tiga kali Aku menulis. Dan sudah tiga kali itu pula Aku menghapusnya. Disebabkan ketololanku akan computer. Kalau lampu Num Lock di key board tak menyala jangan harap tombol Space akan berfungsi semetinya. Tombol Space akan beralih fungsi menjadi delete ketika akan menyisipkan huruf, kata dalam kalimat. Ia akan menghapus huruf setelahnya kalau tombol Space ditekan. Kalau tak percaya akan hal ini, maka Anda boleh mencoba.


************

Pelatihan Karya Ilmiah adalah acara rutinan yang diselenggarakan oleh jurusan. Agar mahasiswa lebih matang dalam menyusun Karya Ilmiah. Lebih baik dan benar dalam mengkomposisikannya. Acara rutinan tahun ini diklasifikasikan menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dijadwalkan tanggal 14-17 februari kemarin. Dan gelombang kedua dilaksanakan tanggal 21-23 fabruari. Dan Aku termasuk golongan gelombang kedua tersebut. Jam delapan lebih sepuluh Pelatihan tadi pagi dibuka dengan pengucapan ummu al-kitab yang dikomandani pak Ghofur, kalau tak salah nama.

Sebelum presentasi dimulai, pak Herry membuka sesi kesepakatan aturan dalam melaksanakan pelatihan yang dilaksanakan hari ini dan dua hari mendatang, yang tentunya harus dipatuhai oleh segenap jama’ah pelatihan. Diantaranya yaitu masuk jam delapan tepat. Diawali dengan presentasi BAB I yang dipaparkan Syekh Munadi. Panggilan yang disematkan oleh pak Herry  tadi pagi. Dengan alasan sangat sederhana, yaitu karena dia lebih berumur dari presentator lain. Dengan pembawaan yang sarat akan guyonan, sindiran dan simple itu membuat suasana tak setegang apa yang kubayangkan. Tak bosan-bosan dia mengingatkan dan memotifasi kita untuk mau membaca dan menulis. Srentetan pertanyaanpun dilontarkan untuk mengetahui proposal yang digunakan syarat tersebut dibuat sendiri atau hasil copy paste. Ternyata mayoritas mahasiswa mengcopy paste proposal tersebut. Sehingga kitapun mendapat gelar S.pd Cp <Copy Paste>.
Akhir presentasi, kita dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. kita ditugaskan untuk  salah satunya mencari idealitas dan realitas yang tersurat dalam latar belakang. Dan mengaplikasikan apa yang telah disampaikan di awal pertemuan tadi.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 11.00. Aku disergap rasa ngantuk yang sangat. Dan ketika itu, bertepatan dengan dijelaskannya BAB II yang disampaikan oleh yang empunya kedudukan sebagai ketua jurusan, pak Imam Ma’ruf. Untuk BAB II ini, Aku tak mendapatkan banyak buah darinya. Aku masih berada dalam kebingungan. Ini adalah murni keluputanku dalam memperhatikan apa yang disampaikan. Tak beda jauh dengan syekh Munadi. Pak Imam Ma’ruf pun memberi tugas untuk mengaplikasikan apa yang telah disampaikan. Agak berbeda dengan tugas sebelumnya karena tugas di akhir pertemuan ini harus dibawa pulang. 

Dan besok jam delapan, Aku harus berada di Kampus.    

Rabu, 09 Februari 2011

Sok Menyaingi Tuhan

9-02-11, sore hari, di tempatku mangkal, warnet Nit Net.   .
Di sini, dalam kesendirian, aku ingin meramaikan sore ini dengan meneruskan kembali  menikmati buku hasil karya Emha Ainun Nadjib. Sungguh menggelitik. Emang tiada duanya makhluk ini. Bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan, sungguh. Aku yakin ungkapan demikian sungguh tak penting. Dan akan tidak pentingnya, maka hal demikian bukanlah hal penting. Bingung…..!!!!!! tak usahlah bingung karena itu emang gak penting. Setelah membaca tulisan Emha yang agak sulit dipahami, karena jahilnya diriku, berjudul “Tuhan Disaingi Manusia”, aku baru menyadari akan tindakan salahku yang dulu-dulu.
Di situ digamblangkan akan perbedaannya antara syari’at vertikal dengan syari’at horizontal. Dalam perspektif masyarakat kita, orang akan menemukan kebahagiaan ketika sudah lengkap antara tiga-ta ini: harta, tahta, dan wanita.
Hal ini menimbulkan masalah yang amat serius. Masalah yang diakibatkan oleh tiga hal tadi; dari tolak ukur horizontal dengan tolak vertikal.
Apa yang dalam pandangan syari’ah horizontal itu menguntungkan ternyata tidak menguntungkan bagi syari’ah vertikal. Melakukan Sholat itu tidak produktif, menyia-yiakan waktu, menurut pandangan tolak ukur horizontal, tidak menurut vertikal. Kecuali jika sholat tersebut menghasilakan uang.
Meminjamkan uang dengan niat mendapatkan kelebihan dalam pengembalian merupakan hal yang dapat membuat bahagia, menurut tolak ukur horizontal. Sedang memberikan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan dari yang diberi merupakan suatu kebaikan, menurut tolak ukur vertikal.
Semua itu contoh sederhana yang ada di antara kita. Dari contoh tersebut, tampaknya manusia ingin menyaingi Tuhan. Baik dari segi wacana, konsep dan manifestasi tentang kebahagiaan. Dan Tuhan enjoy-enjoy saja dengan apa yang diperbuat manusia.
Manusia merampas, menempuh, mencuri perangkat yang dianggap komponen dari kebahagiaan, pada hal Tuhan menyatakan sebaliknya. Kelak mereka akan menyesal dengan perbuatannya dan menunduk-nunduk serta mengiba-iba atas perbuatan yang dilakukan.
Hanya abu Nawas yang dapat “mengalahkan” konsep harta dan kebahagiaan. Ia teriak-teriak bahwa ia lebih kaya dari siapapun, termasuk Tuhan. Ketika ditangkap polisi, ia berargumen: “Menurut Tuhan, harta yang paling berharga adalah anak yang saleh. Dan saya mempunyai anak 12 yang saleh salehah, sedangkan Tuhan tidak punya seorangpun”.



Meminjam kata dalam buku rilisan STAIN Salatiga

Selaraskan keinginan kita dengan keinginan Sang Maha Segalanya”.



Nyuplik dari artikel Emha Ainnun Nadjib, hehehehe

Jumat, 04 Februari 2011

Pelajaran Berarti

Beberapa hari ini aku meniadakan diri dari bertatap muka dengan catatan yang memuat peristiwa yang aku alami. Aku bekontemplasi dengan ditemani catatan dari sudut kampusnya sedulurku yang dulu pernah berguru di jogja. Banyak yang aku dapatkan darinya. mulai dari kata-katanya yang mendayu-dayu, pengalaman love story-nya, spiritualitasnya, hingga konflik keluarga yang dialaminya.
Dari catatan sudut kampus itu, aku dikenalkan dengan Areta, Iffah dan Indani. Mereka adalah tokoh yang berpengaruh dalam catatan tersebut. Dia, Areta, yang bersahaja, pantang menyerah, kreatif dan cerdas dalam menghadapi kehidupan. Dia yang berpedoman "Harapan adalah secercah cahaya yang akan menerangi dan memeriahkan jalan kita" dan dia yang ingin berguru kepada kesetiaan. Dia yang memiliki cinta yang kudus terhadap Iffah. yang sayang, cintanya tak terbalas; bertepuk sebelah tangan, samasa SMA dulu. Dan cintanya yang tulus kepada Indani, yang dipertemukan Tuhan di bumi jogja. Dia yang manja. Dia yang sangat mencintai Areta hingga tak mau akan kehilangannya. Cintanya kepada Areta tak bertepi. Dan dia yang yang dibutakan oleh cinta yang didasari nafsu. Pada hal Areta mengharapkan agar rajutan cintanya dengan Indani dapat mendekatkan jiwa kepada penciptaNya, bukan cinta seperti pemahaman orang zaman sekarang. Bagai langit dan bumi. Tampakanya kisah yang dialami Areta dengan Indani mempunyai kemiripan dengan kisahku. Tentu tidak semuanya sama. Seperti cinta yang berdasarkan pada nafsu untuk menguasai, memiliki dan mengharuskan dialah yang harus dinomer wahidkan.
Cinta yang ditumbuhkan Areta adalah seperti cintanya seorang tokoh sufi yang namanya sudah sering disebut di kalangan mahasiswa. yaitu Rabi'ah Al Adawiyah. cintanya yang tak mengharapkan untuk memiliki, karena sadar bahwasanya semuanya adalah milik Sang empunya jagad, memikirkan untung atau rugi layaknya para pedagang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan untung, mengatur pasangan hanya berdasarkan persepsinya serta menguasai orang yang dicitai.Inipun hanya kesimpulan jahilku.
Dari itu semua, aku menemukan banyak pelajaran, diantaranya: jangan memberi angan yang muluk-muluk terhadap perempuan, jika tak ingin membuat luka di hatinya, pantang menyerahnya, tawakkalnya, arti cinta dan masih banyak lagi yang aku tak mampu untuk menguraikannya satu persatu.