Jumat, 04 Februari 2011

Pelajaran Berarti

Beberapa hari ini aku meniadakan diri dari bertatap muka dengan catatan yang memuat peristiwa yang aku alami. Aku bekontemplasi dengan ditemani catatan dari sudut kampusnya sedulurku yang dulu pernah berguru di jogja. Banyak yang aku dapatkan darinya. mulai dari kata-katanya yang mendayu-dayu, pengalaman love story-nya, spiritualitasnya, hingga konflik keluarga yang dialaminya.
Dari catatan sudut kampus itu, aku dikenalkan dengan Areta, Iffah dan Indani. Mereka adalah tokoh yang berpengaruh dalam catatan tersebut. Dia, Areta, yang bersahaja, pantang menyerah, kreatif dan cerdas dalam menghadapi kehidupan. Dia yang berpedoman "Harapan adalah secercah cahaya yang akan menerangi dan memeriahkan jalan kita" dan dia yang ingin berguru kepada kesetiaan. Dia yang memiliki cinta yang kudus terhadap Iffah. yang sayang, cintanya tak terbalas; bertepuk sebelah tangan, samasa SMA dulu. Dan cintanya yang tulus kepada Indani, yang dipertemukan Tuhan di bumi jogja. Dia yang manja. Dia yang sangat mencintai Areta hingga tak mau akan kehilangannya. Cintanya kepada Areta tak bertepi. Dan dia yang yang dibutakan oleh cinta yang didasari nafsu. Pada hal Areta mengharapkan agar rajutan cintanya dengan Indani dapat mendekatkan jiwa kepada penciptaNya, bukan cinta seperti pemahaman orang zaman sekarang. Bagai langit dan bumi. Tampakanya kisah yang dialami Areta dengan Indani mempunyai kemiripan dengan kisahku. Tentu tidak semuanya sama. Seperti cinta yang berdasarkan pada nafsu untuk menguasai, memiliki dan mengharuskan dialah yang harus dinomer wahidkan.
Cinta yang ditumbuhkan Areta adalah seperti cintanya seorang tokoh sufi yang namanya sudah sering disebut di kalangan mahasiswa. yaitu Rabi'ah Al Adawiyah. cintanya yang tak mengharapkan untuk memiliki, karena sadar bahwasanya semuanya adalah milik Sang empunya jagad, memikirkan untung atau rugi layaknya para pedagang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan untung, mengatur pasangan hanya berdasarkan persepsinya serta menguasai orang yang dicitai.Inipun hanya kesimpulan jahilku.
Dari itu semua, aku menemukan banyak pelajaran, diantaranya: jangan memberi angan yang muluk-muluk terhadap perempuan, jika tak ingin membuat luka di hatinya, pantang menyerahnya, tawakkalnya, arti cinta dan masih banyak lagi yang aku tak mampu untuk menguraikannya satu persatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar