9-02-11, sore hari, di tempatku mangkal, warnet Nit Net. .
Di sini, dalam kesendirian, aku ingin meramaikan sore ini dengan meneruskan kembali menikmati buku hasil karya Emha Ainun Nadjib. Sungguh menggelitik. Emang tiada duanya makhluk ini. Bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan, sungguh. Aku yakin ungkapan demikian sungguh tak penting. Dan akan tidak pentingnya, maka hal demikian bukanlah hal penting. Bingung…..!!!!!! tak usahlah bingung karena itu emang gak penting. Setelah membaca tulisan Emha yang agak sulit dipahami, karena jahilnya diriku, berjudul “Tuhan Disaingi Manusia”, aku baru menyadari akan tindakan salahku yang dulu-dulu.
Di situ digamblangkan akan perbedaannya antara syari’at vertikal dengan syari’at horizontal. Dalam perspektif masyarakat kita, orang akan menemukan kebahagiaan ketika sudah lengkap antara tiga-ta ini: harta, tahta, dan wanita.
Hal ini menimbulkan masalah yang amat serius. Masalah yang diakibatkan oleh tiga hal tadi; dari tolak ukur horizontal dengan tolak vertikal.
Apa yang dalam pandangan syari’ah horizontal itu menguntungkan ternyata tidak menguntungkan bagi syari’ah vertikal. Melakukan Sholat itu tidak produktif, menyia-yiakan waktu, menurut pandangan tolak ukur horizontal, tidak menurut vertikal. Kecuali jika sholat tersebut menghasilakan uang.
Meminjamkan uang dengan niat mendapatkan kelebihan dalam pengembalian merupakan hal yang dapat membuat bahagia, menurut tolak ukur horizontal. Sedang memberikan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan dari yang diberi merupakan suatu kebaikan, menurut tolak ukur vertikal.
Semua itu contoh sederhana yang ada di antara kita. Dari contoh tersebut, tampaknya manusia ingin menyaingi Tuhan. Baik dari segi wacana, konsep dan manifestasi tentang kebahagiaan. Dan Tuhan enjoy-enjoy saja dengan apa yang diperbuat manusia.
Manusia merampas, menempuh, mencuri perangkat yang dianggap komponen dari kebahagiaan, pada hal Tuhan menyatakan sebaliknya. Kelak mereka akan menyesal dengan perbuatannya dan menunduk-nunduk serta mengiba-iba atas perbuatan yang dilakukan.
Hanya abu Nawas yang dapat “mengalahkan” konsep harta dan kebahagiaan. Ia teriak-teriak bahwa ia lebih kaya dari siapapun, termasuk Tuhan. Ketika ditangkap polisi, ia berargumen: “Menurut Tuhan, harta yang paling berharga adalah anak yang saleh. Dan saya mempunyai anak 12 yang saleh salehah, sedangkan Tuhan tidak punya seorangpun”.
Meminjam kata dalam buku rilisan STAIN Salatiga
“Selaraskan keinginan kita dengan keinginan Sang Maha Segalanya”.
Nyuplik dari artikel Emha Ainnun Nadjib, hehehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar