Rabu, 06 Juli 2011

Gaya Hidup Sekamar Dengan Pacar


Ahmad Faid
26.08.3.1.005

A.    Latar Belakang Masalah
Terjadinya ekstrimitas polah-tingkah sebagai manifestasi gaya hidup orang perkotaan, khususnya pelajar dari mahasiswa, belum tentu inferior of culture, kemudian menuding globalisasi kebudayaan dunia sebagai biang keladinya. Lebih celaka lagi jika masyarakat justru nekat menghakiminya secara gebyah uyah(pukul rata) memakai istilah: dekadensi moral, hanya lantaran mejauhkan diri dari nilai-nilai tradisional dalam setiap prilaku mereka.
Kasus kumpul kebo sangat tidak masuk akal jika melihatnya menggunakan konvensi-konvensi kemasyarakatan lima puluh atau seratus tahun yang lalu. Dimana pemakaian hiperbola kumpul kebo masih bersifat bahasa penghukuman terhadap pelakunya. Dikarenakan pelanggaran tersebut dinilai begitu beratnya, sampai-sampai perlu dibuat semacam peringatan bahwa tindakan semacam itu sama halnya mencontoh prilaku binatanag.
Dengan adanya istilah kumpul kebo di dalam masyarakat kita(baca: jawa), sebenarnya membuktikan bahwa perbuatan samen leven bukanlah perkara baru. Bukan inkulturasi; bukan impor. Sejak dulu telah menggejala dan pernah dilakukan. Namun senantiasa ditolak, dilarang, akan tetapi tak pernah benar-benar hilang dari khasanah perilaku individual di kalangan orang Jawa. Karena hal itu boleh dikata merupakan kecederungan individu(bukan sosial), dengan sendirinya hanya mewarnai arus bawah dinamika social budaya yang sempat menyejarah. Yang jarang muncul di permukaan.
Jika ditelusuri, hal ini sangat menarik sekali dikaji karena telah mereaktualisasikan sejumlah problema pranikah yang selama ini kurang diperhatikan oleh masyarakat kita. Lokasi dari masalah ini bukanlah dipinggiran, atau kawasan terpencil dan sepi sebagaimana pemukiman baru; namun justru malah di tengah kota.
Lebih menakjubkan lagi, lokasi itu terletak hanya beberapa puluh meter dari kediaman Ketua RT. Satu blok dengan masjid. Dan tidak jauh dari kantor kecamatan. Padahal keempat unsur tersebut: dunia pendidikan, masyarakat, umat beragama dan pemerintah merupakan pihak-pihak yang paling sensitive terhadap “penyimpangan” perilaku social maupun individual semacam itu. Toh, realitasnya mereka bisa kecolongan. Atau justru tidak tahu, atau mengabaikan lantaran komplikasi kehidupan dan persoalan yang dihadapi masing-masing individu setiap harinya sudah sedemikan membuat kepala pusing tujuh keliling.
Fakta singkat di atas memberikan isyarat awal, bahwa terjadinya kasus hidup sekamar dengan pacar, pertama kali disebabkan adanya kebebasan individual(privasi) yang berlebih. Terutama lewat toleransi langsung maupun tidak langsung dari pemilik kos, masyarakat sekitar maupun orang tua kedua belah pihak. Sebab manakala salah satu saja dari ketiga unsur tersbut bergolak atau menolak, kebersamaan seperti itu mustahil terjadi.
Salah satu ciri yang unik dalam gaya hidup ini adalah ternyata pihak cowoklah yang “memboyong” ceweknya ke kamar kos masing-masing. Strategi ini agaknya menguntungkan. Berbeda jika cowok yang bemalam di kamar cewek. Sekali-dua kali sempat terdeteksi lingkungan, untuk yang ketiga kalinya pasti terjadi gropyokan. Sebaliknya, kalau cowok yang memboyong cewek, sedikit banyak terkesan adanya (semacam) tanggung jawab. Persis sebagaimana adat, bahwa pengantin prialah yang pada hakikatnya memboyong gadis idamannya.
Mereka menganggap bahwa peran hidup sekamar dengan pacar penting sekali. Kebersamaan merupakan penenang, agar kegelisahan hidup di rantau(merasa kesepian dan terpencil) dapat terlupakan. Yang mengejutkan ialah pernyataanya ingin belajar hidup bersama lebih dulu sebelum menikah. Sebab menurutnya, berkeluarga itu susah. Maka agar nantinya tidak mudah terjadi salah paham, salah tafsir, salah pengertian mengenai berbagai persoalan hidup yang dapat meretakkan perkawinan, mulai sekarang mereka sepakat hidup sekamar. Mencoba bekerjasama merintis kesiapan berumah tangga. Seperti membiasakan berlangsungnya membagi tugas. Ceweknya mencuci, cowok menyetrika. Si cewek masak, cowoknya menyalin catatan kuliah, atau pinjam literature.
Salah satu ucapan mereka yang patut direnungkan adalah keiginannya untuk mencoba mempersiapkan diri melakukan kerjasama dalam segala hal sebelum memasuki perkawinan yang sesungguhnya. Kesadaran ini menarik, karena secara tidak langsung merupakan pemikiran transformative dan maju terhadap adat dan tradisi kita di masa lalu.

B.     Justifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang dilirik adalah masalah zina yang dilakukan oleh para mahasiswa. Dan hal ini masuk dalam kawasan fiqh jinayah. Karena dalam perspektif islam para pelaku zina tersebut mendapatkan hukuman yaitu berupa had. Sedangkan hadnya sendiri masuk kategori jinayah.

C.     Zina dan hukumannya dalam perspektif Islam
1.      Zina menurut agama islam
Zina (bahasa Arab: الزنا, bahasa Ibrani: zanah) adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan).
Di dalam Islam, pelaku perzinaan dibedakan menjadi dua, yaitu pezina muhshan dan ghayru muhshan. Pezina muhshan adalah pezina yang sudah memiliki pasangan sah (menikah). Sedangkan pezina ghayru muhshan adalah pelaku yang belum pernah menikah dan tidak memiliki pasangan sah.
Di bawah hukum Islam, perzinaan termasuk salah satu dosa besar. Dalam agama Islam, hubungan seksual oleh lelaki/perempuan yang telah menikah dengan lelaki/perempuan yang bukan suami/istri sahnya, termasuk perzinaan. Dalam Al-Quran, dikatakan bahwa semua orang Muslim percaya bahwa berzina adalah dosa besar dan dilarang oleh Allah.

Tentang perzinaan di dalam Al-Quran disebutkan di dalam ayat-ayat berikut;
a)      Al Israa’: 32 
Ÿwur (#qç/tø)s? #oTÌh9$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. Zpt±Ås»sù uä!$yur WxÎ6y ÇÌËÈ  
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

b)      Al A’raf: 33
ö@è% $yJ¯RÎ) tP§ym }În/u |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $pk÷]ÏB $tBur z`sÜt/ zNøOM}$#ur zÓøöt7ø9$#ur ÎŽötóÎ/ Èd,yÛø9$# br&ur (#qä.ÎŽô³è@ «!$$Î/
$tB óOs9 öAÍit\ム¾ÏmÎ/ $YZ»sÜù=ß br&ur (#qä9qà)s? n?tã «!$# $tB Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÌÌÈ  

Jumat, 01 Juli 2011

Islam “Ngayomi” Semua Umat.


Saya ingin bercerita tentang Rosulullah. Tapi pakai bahasa Indonesia campur bahasa jawa ya. Tentu teman-teman juga pernah mendengarkan cerita ini dan pasti ada juga yang belum tahu thow!!!!! Ya dah yang sudah tahu jangan ngasih tahu yang belum tahu dan yang belum tahu jangan nanya yang sudah tahu. Setuju nggih……..
Ketika Rosulullah menaklukkan kota makkah atau yang sering disebut dengan Fathul Makkah, beliau tidak pernah berbuat “sak-sak’e” terhadap umat non muslim, kafir Quraisy khususnya. Seperti laiknya perang ,yang dilakukan Rosulullah dan pasukannya, biasanya Si pemenang menjarah harta, ternak dan apapun yang benilai yang dimiliki oleh Si lawan. Selain itu biasanya Si lawan dihina, dipenjara, dianiaya dan lain sebagainya. Namun berbeda dengan perang ini.
Teman-teman ingin tahu apa yang dilakukan Rosullullah terhadap pasukan yang kalah dalam pertempuran itu yaitu kafir Quraisy. Rosul meminta sahabat-sahabatnya untuk menyiapkan harta dan ternak yang dijarah dari perang yang didapatkan sebelumnya di setiap pintu keluar kota makkah.
Rosul bersabda kepada para sahabat                                              
ليس هذا اليوم يوم الملحمة وإنّ هذا اليوم يوم المرحمة                                 
Artinya: Hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan ini adalah hari kasih sayang (valentinnya orang islam kali ya….)
Para sahabat berkumpul membicarakan apa yang diperintahkan oleh Rosulullah. Kemudian ada sahabat yang bertannya,“Ya Rosulullah, untuk siapakah harta, ternak dan lain-lain disiapkan?”.
Sahabat lain menambahi,”Bukankah ini semua harta, ternak jarahan yang kita dapatkan merupakan hak kita, pasukan muslim?”.  
Rosulullah bertanya, ”Sudah berapa lama kalian mengenalku?”.
Para sahabat menjawab secara serempak, ”Lima sampai tujuh tahun, ya Rosulullah”.
Kemudian Rosulullah menimpali, ”Yang kalian tahu aku mencintai kalian atau tidak?”
“Iya, ya Rosulullah,” Para sahabat merespon.
Lalu Rosulullah menegaskan, ”Lalu mana yang kau pilih, cintaku atau harta dan ternak itu?”.
Dan semua sahabat menangis tidak rela jika Rosul membenci mereka karena mereka lebih memilih harta dan ternak dari pada cintanya Rosul.
Pastinya temen-temen dan hadirin semua dapat mengambil pelajaran yang terkandung dalam cerita tadi. Ya kalau belum dapat menangkap apa-apa yang terdapat dalam cerita tadi, saya mencoba sedikit menjelaskan. Namun teman-teman dan hadirin boleh tidak seiya dengan saya.
Dari cerita tersebut saya dapat mengambil pelajaran bahwa apa yang dipraktekkan oleh panutan umat islam, Rosulullah, sungguh sangat mulia. islam bukanlah agama yang keras, kejam dan apa yang seperti orang sekarang maksudkan. Ia merupakan agama yang penuh dengan kasih sayang. Bukan hanya kepada sesama muslim akan tetapi ke semua umat meski berbeda iman.
Sekian dari saya. Ma’af bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Wabillahi attaufiq wal hidayah warridho wal inayah. Wassalamualaikum Wr. Wb.
         Demikian sumbangan yang bisa saya berikan kepada temanku. Kurang lebihnya saya minta maaf.

                           

Sabtu, 02 April 2011

Arti Tanggung Jawab

Pucangan, 2/4/2011.

Beberapa hari ini saya jarang meluangkan waktu untuk bertatap muka dengan laman ini. Pun demikian , banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai dari tidak mood-nya dalam menulis, males dan sibuk bercanda tawa dengan teman teman di sekitar. Saya kira saya telah berlebih tergelincir dalam kenikmatan sementara. Kenikmatan merajut horizontal conecction bersama teman sejawat. Dan syukurlah, hari ini saya menyadari akan kecerobohanku. Tiada niat tuk mengatakan engkau, teman-temanku, sebagai penyebab atas ini semua. Ini murni adalah kesalahanku.
Sungguh, banyak peristiwa yang sangat berharga yang terjadi. Dan sayang sekali saya tak dapat menulisnya di laman ini. Hanya sekedar dapat menyaksikan, merasakan dan mengingatnya. Meski sayapun tahu ini tak akan bertahan lama tersimpan dalam MMC ku. Sangat disayangkan.

Saya, demi diri sendiri, hari ini tak boleh kecolongan lagi. Kecolongan untuk kesekian kalinya. Kecolongan tak mengabadikan peristiwa. Baik yang saya alami sendiri maupun yang tidak. ya meski tulisanku masih sangat bisa dibilang biasa.

Iya thow.........



********

Hari ini, Sabtu, pukul 14:30 WIB. Diskusi ringan itu mencuat. Diskusi biasa. Diskusi yang agak membuat dia bingung akan memaknai kata itu. Kata yang mengandung luar biasa maknanya. Diskusi itu bertajuk  "Tanggung Jawab".

Ada kejanggalan dalam otakku. Ada yang senang akan tanggung jawab, sampe-sampe menghalalkan segala cara tuk dapatkannya dan ada pula yang enggan memikulnya. Pada hal dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa Allah telah menunjukkan kedemokratisannya menawarkan tanggung jawab kepada makhlukNya. Tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Di antara makhluk yang ditawariNya adalah gunung, laut, bumi, malaikat, jin dan yang terakhir adalah manusia. Makhluk yang pertama enggan akan akibat yang diterima jika berkhianat. Ia takut akan ketidak mampuannya memikul amanat itu. Makhluk yang kedua dan ketiga berpikiran sama, tak mengambil tawaran itu. Sedang malaikat yang tak bisa dipungkiri akan keamanatannya dalam menjalankan perintahNya pun angkat tangan mengenai hal ini. Jin pun bersifat laiknya malaikat. Menyerah sebelum bertanding, tak mampu menanggung akibat yang diterima, jika berkhianat.

Akan tetapi di luar dugaan, makhluk yang berani mengambil dan memikul tanggung jawab itu adalah manusia. Manusia yang diragukan oleh semua makhluk menjalankan amanat sebaik-baiknya. Entah alasan apa yang dimiliki manusia sehingga ia berani mengajukan diri tuk menerima tawaran itu. Akankah manusia tak sadar diri akan kemampuannya. Dan apakah manusia tak memaklumi akan akibat yang akan diterimanya, jika ia berkhianat. Sungguh di luar perhitungan.

Saya merelevansikan hal di atas dengan apa yang dialami teman saya. Ia yang mengatakan tak mampu manggul tanggung jawab. Ini merupakan hal yang sulit untuk disinkronkan. Dari pengalaman di atas, manusia sangat yakin akan kemampuannya dalam menjalankan amanat tuk memikul tanggung jawab itu. Akan tetapi di pihak lain manusia sungguh takut akan dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut.

Dia dibelikan Netbook orang tuanya. Orang tuanya sangat mengasihi dan mencintainya. Saya punya tafsir sendiri kenapa saya bisa mengatakan demikian karena meski tiada permintaan dari Si anak, mereka memenuhi apa yang dibutuhkan mahasiswa pada umumnya. Karena dia adalah mahasiswa di PTAIN.
Ingat, bukan berarti jika anak meminta, orang tua tak mengasihi dan mencintai anaknya, laiknya saya. Mana ada sih orang tua tak mencintai dan mengasihi anaknya. Saya kira tak mungkin itu. Namun jika ada, sungguh tega nian orang tua kalau tak berbuat demikian, mengasihi dan mencintai anaknya.

Saat membelikannya Netbook, mereka, orang tua, memberitahu akan konsekuensi nya “kalau ada keruskan pada Netbook, maka itu adalah urusanmu. Karena itu adalah milikmu. Bapak ibu sudah tak mau lagi ikutan nanggung biayanya,  jika ada kerusakan ”, orang tuanya memperingatkan. Diapun meneropong masa depan. “Kula gak pengen ngrepoti jenengan”, dia berujar dalam hati. Kira-kira demikian ujarnya. Menurut taksiranku. Dia, yang mempunyai jiwa baik hati, tak mau merepotkan orang tuannya, khawatir akan keruskan benda mahal itu. Ia berfikir "Bagaimana saya dapat ngrumati benda ajaib itu jika saya belum bekerja. Lebih-lebih kalau benda itu error. Berapa banyak duit yang akan keluar. Kan benda itu jadi milikku sepenuhnya". Maka ia pun memutuskan tuk menjual benda itu. Meski dengan berat hati, saya pikir.

Ada hal menarik yang sangat mendidik yang ingin ditanamkan mereka kepada anaknya, jika saya amati apa yang terjadi pada dia. Mereka ingin dia menjadi orang yang amanat. Bertanggung jawab dengan apa yang dimiliki. Memberitahu akan konskuensi tentang apa yang akan diterima jika ia mempunyai sesuatu. Dan saya kira mereka ingin menguji anak-anaknya menjadi yang demikian. Akan tetapi, sayang sekali. Dia, temanku, belum menyadari kalau ia sedang diuji oleh kedua orang tuanya.



Kata dariku, tuk diriku sendiri dan teman jika seiya.

“Jika takut akan besarnya tanggung jawab yang dipikul secara berlebihan, kayaknya akan berefek negatif ke masa yang akan datang. Seperti sikap minder, tidak pede dan takut akan menghadapi masalah yang akan didapat di kemudian hari. Wajar memang jika kita takut, tapi tak seyogyanya jika sangat berlebihan".

"Kerjakanlah sebaik-baiknya dan pasrahkanlah semuanya kepada Sang Penggenggam jagad ini”.

“Untuk menjadi orang besar, kita wajib dibenturkan dengan tanggung jawab yang besar”.

Semua ini hanya taksiranku lhow yaw........ 



Pukul 20:45 WIB

Rabu, 16 Maret 2011

Susahnya Membujukmu


10-3-11, saat gairah hidup menipis.
 Otakku berputar laiknya roda. Berputar terus menerus tiada henti. Berpikir akan sebab yang diutarakan Mr. Y, Si Biro Skripsi.
Mungkinkah judul ditolak hanya gara-gara lupa pemain utama dari film itu?
Bukankah substansi sebuah film itu dari nilai-nilai yang tersirat?
Dan juga tersurat, pastinya. Mungkinkah nama aktor utama juga termasuk penting?
Toh masak tak ada kompensasi sedikitpun akan kealpaan memoriku dalam mengingat nama pemerannya. Sangkaan yang berderet-deretpun berbaris berurutan di otakku.
Kemarin,<9/3/11>, hatiku remuk redam. Lantaran judul yang kurangkai ditolak lagi.  Beberapa judul yang aku idam-idamkan akan diACC hanya tinggal kenangan belaka. Tapi agak sedikit menggembirakan ketika ada satu judul yang dilirik kedua bola matanya. Judul yang mengangkat “Nilai-nilai yang terkandung dalam film Kun fayakun”. Akan tetapi kesumringahan wajahkupun hanya bertahan sebentar, ketika aku ditanya tentang nama asli pemain utamanya. Aku menggeleng tanda akan tak maklumnya aku. Aku blank. Aku  lupa.
Beberapa alasankupun aku luncurkan tuk mempertahankan ketidaksengajaanku tuk melupakan nama aktor  itu. Tapi kengototanku dalam mempertahankan alasanku pun digunakannya tuk memukulku mundur. Mundur agar tak melanjutkan meneliti film itu.
Apa itu hanya gertakan sambal agar tak melanjutkan meneliti film tersebut? Pikirku, jika itu hanya gertakan, berarti aku masih punya kesempatan tuk melanjutkan meneliti film itu lebih mendetil. Akan tetapi jika tidak ,maka akan ku cari film atau judul baru. Ku kira masih banyak judul yang berada di luar sana.
Penyesalan akan ketidaksungguhanku dalam mempelajari film itu hinggap di kepalaku. Kenapa aku tak mempelajari apa-apa yang terdapat di dalam film itu. Menyesal mesti selalu ada di belakang, ujarku dalam hati. 
Dalam bayanganku, jika beberapa judul tersebut ada yang disetujui, maka aku akan melanjutkan kesungguhanku dalam meneliti, menelaah judul yang sudah pasti disetujui tersebut. Tapi itupun hanya dalam anganku saja. Si Biro menginginkan mahasiswa agar membaca, menelaah dan meneliti terhadap apa yang akan diajukan menjadi judul secara inten.
Aku akui akan ketololanku. Di otakku tak terbersit sedikitpun untuk menelaah secara sungguh-sungguh. Sungguh di luar dugaan. Tapi, mungkinkah akan seperti ini nasib yang akan diterima kalau cewek yang berada pada posisiku. Mungkin akan sedikit berbeda. Karena dalam merayu cowok, cewek punya trik tersendiri. Trik yang mampu menggoyahkan pendirian cowok. Sebaliknya pun cowok merayu cewek.




<16/3/11>

Pukul, 20:45 WIB. Menjelang kembali ke kost.


Selasa, 15 Maret 2011

Hanya Sebatas Mendengar

Selasa,<15/3/2011> di sore menjelang senja.



Seperti biasanya. Dengan orang yang sama. Di suasana yang sama. Ya meski dengan kelas yang berbeda. Dan mata kuliah jilid kedua. Melanjutkan jilid pertama kemarin,materi PAI. Tapi tetep diampu oleh Bu Nyai , yang berpenampilan menyejukkan hati, Hj. Tasnim.

Meski jarum jam masih setia berada di angka sepuluh tiga puluh. Saya kira, untuk jam segitu masihlah dapat digolongkan pagi. Tapi entah mengapa, semangatpun tak dapat menyala-nyala. Layaknya spiritnya kaula muda. Terbukti ketika ditawari untuk menunjukkan kebolehannya dalam mengingat ka’idah-ka’idah ushul fiqh yang sudah dipelajari di semester dulu. Ka’idah yang didapatkan dalam program yang diadakan oleh pihak jurusan Tarbiyah, P3kmi. Salahsatu Program yang digunakan setidaknya untuk menunjang mutu mahasiswa. Dengan semangat yang seadanya. Kita mengikuti makul tersebut. Sederet pertanyaanpun menghampiri.   

Apa benar mereka juga sudah merasa tua???

Apa memang mereka bingung akan menulis kalimatnya???

Atau apa mereka memang tak mau dikatakan sombong??

Kalau iya, mulia benar hati mereka. Tawadhu’nya tinggi sekali.

Kalau saya, memang sudah agak tua. Jadi wajar jika tak punya greget untuk menyala. Ya pastinya ini adalah argument yang tak terbantahkan. Dan untuk menghindarkan diri dari tuduhan atas ketidakadanya nyali untuk maju.

Selalu dan menjadi makanan wajib untuk kita. Kita diingatkan kembali untuk bermuhasabah. Bermuhasabah tentang apa yang telah dikerjakan. Mengkalkulasikan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ritual wajib yang di lakukan setiap hari, sholat. Jika difikir dan mau mengigat ulang apa yang telah dilakukan. Tentu kita akan malu pada diri sendiri. Tapi ini adalah keharusan untuk mengikutinya.

Secara tak sadar, sebenarnya kita sedang digiring untuk menyuluk dalam menggapai ridho Ilahi juga menjadi insan kamil, manusia yang sempurna. Sayang tak banyak diantara kita yang menyadari akan maksud Sang ibu itu. Semuanya hanya dianggap angin lalu. Setelah mendapat kesejukan, hilanglah angin tersebut. Mungkin dalam membungkus apa yang disampaikan kurang menarik. Sehingga kurang menarik minat kami untuk mendengarkan, memahami dan pastinya mengamalkannya. 

Sedikit yang saya ingat,”kalu kita memang mengaku hamba Allah, kenapa kita enggan melaksanakan apa yang diperintahkanNya dan tentunya menjauhi laranganNya”, ujarnya.

“Roja' dan Khoufpun juga harus seimbang, jika tidak kita akan lena dalam mengartikan Rahman RahimNya Allah yang Maha Segalanya”, beliau menambahkan.

Jujur  bu, kami belum sanggup untuk melaksanakan seperti apa yang diharapkan ibu tak terkecuali saya. 
Saya yang masih suka akan kesementaraan. Akan tetapi saya yakin, suatu saat nanti pastinya mereka akan menyadari akan hal tersebut.





Ma’afkan kami, khususnya saya, yang tak terlalu memperhatikanmu ibu.





 Pukul, 17:55, menjelang maghrib.


Jumat, 04 Maret 2011

Kemana Arah Tulisan Ini


Jam 20:30 WIB, dingin merasuk. <4-3-2011>

Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku sendiri. Partner yang biasa di sampingku kini berada di Sukoharjo, rumah Ortu yang empunya Nit Nit. Ikut menyemarakkan acara di sana. Aku kesepian. Di tempat sana diadakan hajatan. Hajatan apa aku tak tahu pastinya.
Sudah berulang kali Aku buka Efbe. Tapi kenyamananpun hanya terasa sekejap. Memang banyak teman yang berada dalam obrolan, tapi hanya beberapa gelintir yang aku kenal.   
Kubuka KOMPAS.com, tapi isi beritanya hanya membahas itu-itu saja.
Berita dari sudut politik nasional. Dimulai dengan politik yang bertele-tele dan entah kemana arahnya. Ribut tentang koalisi. Antara Demokrat dengan Pks dan Golkar. Golkar dan Pks yang dituding tak seiya sekata dalam menentukan diadakannya angket Century dan angket mafia pajak. Dilanjutkan atau tidak koalisi yang telah terjalin dari tahun kemarin. Dikabarkan pula kini Gerindra akan menggantikan posisi partai koalisi itu. SBY pun sudah memastikan jika Gerindra yang akan menggantikan posisi mereka. Sayang tak bisa Aku bahas panjang lebar. Karena Aku memang tak terlalu mudeng akan masalah ini.
Dari Regionalpun diramaikan berita akan langkanya tabung gas isi ulang di daerah Kaur, Bengkulu. Ini hanya satu diantara tumpukan berita yang menyesakkan dada.
Apa mereka, orang yang berpakaian parlente, tak tahu apa yang dirasakan rakyat. Rakyat yang masih kesulitan dalam menikmati hidup. Sungguh tak peduli akan nasib juragan mereka, yaitu rakyat.
Berita internasionalpun masih sibuk memberitakan kepemimpinan  Sang pemegang kekuasaan, Mu’ammar khadafi. Pemimpin yang diumpamakan sebagaimana Hitler, presiden jerman kala itu. Hingga kini ia belum mau turun dari jabatannya. Masih mengekeuhkan tampuk kekuasaanya di Negara arab sana, Lybia. Duniapun dibuat bingung akan tingkahnya. Dan masih banyak lagi kisah yang menyedihkan.  
Dan kesepianpun akan terulang kembali esok hari. Berbekal duapuluh ribu. Aku akan bertahan. Aku bakal menikmati hari esok dengan nangkring di atas kursi merah hingga larut.

Dan kantukpun mulai menyerang. Matapun mulai berat untuk dibuka.
Aku sudah tak kuat lagi. Aku sudahi tulisan yang tak tahu bakal mengalir kemana.


Pukul 21:35 WIB, menjelang pulang

Kamis, 03 Maret 2011

Hey, Jangan-Jangan Kita Kafir


Tanggal, 1-3-’11, di Nit Net.
Guyuran air hujan membasahi desa pucangan. Kurang lebih sudah tiga hari ini. Ada yang bilang sudah seminggu ini malah.  Inilah manifestasi Rahman Rahim-nya Allah. Ya  meski banyak yang mengingkari akan ni’mat yang diberikan. Kitapun harus mawas diri. Kita hidup di jagad Nya, mestinya kita juga harus menerima apa yang diperbuatnya. Kita juga harus mentaati tata tertib yang telah ditentukanNya. Senang dengan aturan tersebut atau tidak. Menginap di hotel. Selayaknya, kita harus menghormati tetangga kita. Kita juga harus mentaati tata tertib yang telah dibuat oleh manager. Kita tak bisa berbuat seenaknya. Hal demikian tentulah sering kita dengarkan. Tentu kita juga sering mengabaikannya. Ingat-ingat lagi kawan.
Tulisan berikut ingin…………………..
Ternyata lampunya oglangan<mati>
Berlanjut di episode selanjutnya…

**************


Tanggal, 2-3-’11, masih setia.
Beberapa hari ini akupun dibayangi bermacam kekhawatiran. Mulai dari diterima atau ditolaknya judul yang kuajukan. Hingga kegelisahan yang tak menentu. Berharap sangat judulku akan diterima. Namun jika tidak, ya harus bagaimana lagi. Akupun jua tak papa. Toh banyak juga yang menelan kekecewaan lantaran ngajuin judul yang tak kunjung diACC. Kriteria yang bagaimana yang diinginkan oleh Biro Skripsi. Tak ada seorangpun yang tahu, entahlah. Apa benar aku harus pakai jilbab dulu, gumamku dalam hati. Hush, jangan ngomong kayak gitu. Banyak pertanyaan yang berderet di otakku. Kenapa Biro-nya hanya seorang??? Kemana dosen-dosen yang lain???. Kenapa kita tak boleh mengajukan judul yang sama dengan Mahasiswa sesudah kita, toh pastinya gak akan sama isinya, kalau tak ngopy paste, pastinya???? Kalau memang menjadi Biro, kenapa tak hanya menjadi Biro saja???? Tak usah ngrangkap menjadi Pembimbing atau penguji segala. Kan biar lebih fokus ngurus Skripsi yang diajukan. Ya ini semua hanya akan terpendam dalam hatiku. Tak mengapa. Akupun sudah senang sudah berfikir demikian.

**************

Tanggal, 3-3-’11, siang menyengat. Melanjutkan coretan tertanggal 1-3-’11.
……..Niatku ingin menguraikan kembali pengertian tentang “Kafir”. Dulu sempat disinggung “Bapak”, K.H. Aminuddin Ihsan. Tapi sepertinya Aku lupa akan hal itu. Dan sekarang, oleh Emha Aku diingatkan kembali akan pengertian kata tersebut. Apa arti sebenarnya. Apa benar kafir hanya diartikan orang yang tidak mempercayai Allah dan Rosul-Nya. Berikut uraianku,,,,,,,
Kafir dari sudut terminology berarti orang yang menutupi, menyembunyikan sesuatu atau tidak berterima kasih atau juga sangat boleh diartikan mengingkari nikmat.
Seperti yang diungkapkan wiwiet dalam Blognya, Bahwa:
Dalam al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk disebut sebanyak 525 kali.
Kata kafir digunakan dalam al-quran berkaitan dengan perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan,  seperti :

1)      Mengingkari nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya
(QS.16:55, QS. 30:34)
2)      Lari dari tanggung jawab (QS.14:22)
3)      Menolak hukum Allah (QS. 5;44)
4)      Meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44)

Setelah aku membayangkan. Aku sungguh malu akan tingkahku. Kalau Anda waras dan Anda berpikir secara jernih maka Anda pasti akan merasakan apa yang kurasakan.
Dari itu semua, masih patutkah kita mengatakan bahwa orang lain kafir????????
Kalau iya, sungguh keterlaluannya.
Meski ini semua hanya pengertian secara terminology. Apa kita hanya memandangnya dengan sebelah mata.

Boleh setuju boleh tidak, terserah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!