Menjelang makan siang,
seperti biasa Endro berhamburan pulang ke rumah untuk makan siang. Setelah
seharian penuh Endro, Eko, Edi dan Baskoro bermain layang-layang di sawah di
desa sebelah. Namun berbeda dengan hari biasanya karena Endro mengajak salah
satu temannya, Eko, untuk makan siang bersama di rumah Endro. Sambil jalan,
diapun berkata dalam hati, “Wah kira-kira menunya apa ya hari ini?, lebih enak dari
ayam goreng kemarin gak ya!”.
Perutnya yang keroncongan membuat dia terburu-buru masuk sambil
berlari ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Ekopun tergopoh-gopoh mengikuti
Endro yang berlari kencang.
Eko sambil melirik Endro berkata, “Cepat benar larimu, kayak
dikejar setan saja?”.
“Ah kamunya aja yang lamban, masak gitu aja napasmu ngos-ngosan,
payah!!!”, sahut Endro. Tidak seperti biasanya. Biasanya mereka mengucapkan
salam ketika mau masuk rumah.
Ibu yang sedang menggoreng tempe di dapur kaget sekali ketika ada
bunyi pintu tertutup kerasa sekali.”Siapa itu, nutup pintu keras banget bikin
kaget saja!” batin ibu.
Endro bergegas menuju depan lemari es tuk mengambil air dingin. Dia
lupa bahwa Eko ikut pulang bersamanya. Eko ditinggal di ruang tamu sendirian. Ketika
Endro ke ruang depan sambil mau nyantai dia baru sadar kalau Eko sedang
tergletak di atas lantai dalam keadaan sadar. Karena malas berdiri Endro dari
menyuruh Eko mengambil air minum sendiri di belakang.
Endro berkata,“ko, ambil minum sendiri ya, malas bendiri ni!”.
Eko menyahut,” ya elah, tega sekali kau!”.
Endropun menimpali, “Dah Pe-We ni, sorry, anggap rumah sendiri
saja, ok”.
Ekopun menjawab, “Ok deh kalo gitu”.
Setelah setengah jam bersantai ria sambil dikipasi angin buatan,
akhirnya Endro dan Eko pergi ke dapur tuk mencari ibunya. Endropun mencari tahu
masakan apa yang dimasak ibunya hari ini. Eko hanya mengEkori Endro kemana Endro
pergi. Seperti seorang prajurit yang mengkawal rajanya.
Endro bertanya, “Masak apa bu?”.
“Hari ini masak sayur asem, dek”, ibu menjawab.
Ibu biasa memanggil Endro dengan panggilan adek karena Endro adalah
anak nomer dua dari dua bersaudara. Seperti budaya orang zaman sekarang yang
memanggil putra-putrinya dengan sebutan kakak dan adek dengan tujuan agar lebih
halus didengar oleh mereka.
“Yah, sayur asem lagi. Terus lauknya apa bu?” Endro penasaran
Ibu menjawab,”lauknya tempe, tahu dan lele goreng sama sambal,
dek”.
“Ya udah kalau gitu biar aku pergi saja, bosan aku makan itu-itu
melulu”, Endro berkata sambil berlari diikuti Eko yang ada di belakangnya.
Ibupun tak bisa mencegah perginya Endro. Pun juga sudah dimaklumi
kalau Endro sudah punya keinginan, pastilah sulit untuk dibendung, malahan bisa
nangis tanpa henti dia. Ibu berdo’a dalam hatinya, “Ya Alloh yang Maha baik,
berilah petunjuk kepada anakku, amin”.
Endro mengambil layang-layang yang tadi diletakkan di depan rumah
sambil mengajak Eko.
“Ko, ayo kita main layang-layang lagi, aku gak jadi lapar ni”, kata
Endro.
“Ok ndro”. Ekopun menuruti perintah Endro.
Setelah bergegas ke sawah mereka menerbangkan layang-layang mereka.
Tinggi, tinggi sekali layang-layang itu diterbangkan. Sambil menerbangkan
layan-layang Endro mencari tempat tuk berteduh dari matahari. Eko, sambil
memegangi benang laying-layangnya, lagi-lagi ikutan membuntuti langkah Endro.
Karena memang siang itu matahari sangat terik sekali.
Hampir satu jam mereka duduk di bawah pohon tuk cari udara segar
sembari menunggui layang-layang yang mereka terbangkan. Eko dan Endro mendengar
sesuatu.
“Krucuk, krucuk, krurucuk, suara apa itu ko”, kata Endro.
Sambil mendekatkan telinganya ke sumber suara, Eko berkata, “Itu
suara perutmu ndro, kamu tu lagi kelaparan”.
“Terus gimana dong?”, Tanya Endro.
Eko sambil tertawa menjawab,”Ya makanlah ndro, hahaha”.
Endro menimpali, “iya ko, maksud aku makan dimana, masak di rumah.
Lauknya kan gak enak, gak mau aku ah”.
Ekopun mengusulkan ide ke Endro,”Gimana kalo makan ke rumahku aja,
mau ga?, tapi ya seadanya gitu, gimana?”
Tanpa pikir panjang, Endro mengiyakan ajakan Eko untuk makan siang di
rumahnya. Layang-layang yang sedang terbang diturunkan semua untuk dibawa
pulang.
Setelah berjalan lima belas menit, akhirnya mereka sampai di
rumahnya Eko. Rumah sederhana, biasa dan bersih. Eko mengucapkan salam untuk
masuk ke rumah.
“Assalamualikum”, ucap Eko.
Dijawab dari dapur,”Waalaikumsalam Wr Wb”
Eko masuk ke dalam rumah diikuti Endro. Dia langsung mencium tangan
ibunya ketika melihat ibunya datang dari dapur. Endro sebagai tamu jadi ikutan
menyalami tangan ibunya Eko.
“Ibu, Eko udah lapar ni, Eko pengen makan”, Eko merayu ibu.
“Itu ibu sudah siapkan makanannya, tadi nungguin kamu gak
pulang-pulang. Ayo, makan bersama-sama biar ramai”, ibu berkata.
Tikar digelar. Makanan diambil dari dapur seperti nasi, sayur,
lauk-pauk, krupuk dan es teh. Ibu, Eko dan Endro mengangkuti makanan menuju
ruang tamu. Keluarga Eko biasa makan di ruang tamu, lesehan di atas lantai.
Mereka mulai siap makan. Makanan seadanya pun dilahap habis oleh mereka
bertiga. Pada hal sayur nya sayur asem, lauknya pun tempe, tahu dan telur.
Tidak ada yang istimewa bagi Endro. Tapi saat itu Endro paling semangat
menyantap makanan tersebut.
Setelah acara makan siang selesai. Semuanya dibersihkan dan di bawa
ke dapur. Yang tersisa tinggal tikar yang digelar dan juga es teh. Selanjutnya
mereka ngobrol ngidul tak tentu arah hingga muncul juga pertanyaan tentang
kenapa Endro tidak jadi makan di rumah.
“Oh iya ndro, kenapa kamu gak jadi makan di rumahmu tadi?” Tanya Eko
penasaran
“Lauknya gak enak, jadi aku gak mau makan di rumah. Kan malu juga
sama kamu” jawab Endro
Ibu ikut gabung dalam obrolan,”emang tadi lauknya apa ndro, kok gak
enak?”
Endro menjawab, “Lauknya tempe,
tahu dan lele goreng sama sambal”.
“Lhoh bukannya lebih gak enak di sini thow lauknya, di sini kan
cuma lauk tempe, tahu dan telur goreng”, ibu menjelaskan. Setelah menghela
napas Ibu melanjutkan,“makanan enak atau tidaknya itu bukan terletak pada
makannya, akan tetapi terletak pada bagaimana cara kita melihat dan menyikapi
adanya makanan tersebut”.
“Maksudnya gimana itu bu, makanan enak itu kok bagaimana cara kita melihat
dan menyikapi adanya makanan tersebut?”, Tanya Eko semakin penasaran. Endro
ikut serius memperhatikan.
Ibu menjelaskan,”maksudnya, kalau umpamanya makanan yang tersaji
itu tempe kita bisa kan membayangkannya ayam. Atau misalnya adanya cuma tahu,
kita melihatnya sebagai rizki yang dianugerahkan Allah kepada kita. Apakah kita
mau menolaknya gara-gara kita tidak suka rizki tersebut?. Ibu
melanjutkan,”Kalau ibu ngasih permen ke Eko, terus Eko menolak permen itu
kira-kira ibu marah gak?”. Tanpa menunggu jawaban ibu meneruskan,”semua yang
ada pada kita syukuri saja. Kalau kita ingin makan sesuatu yang gak ada dihadapan
kita, itu namanya tamak, tidak tahu terima kasih”. “Ujung-ujungnya kalau mau
merasakan makanan yang diinginkan, ya cukup dibayangkan saja makanannya.
Menunya tempe tapi membayangkan ayam yang ada di sajian tersebut”. Ibu
menambahkan.
Eko mengangguk-ngangguk. Sedangkan Endro hanya tertunduk diam dan dalam
hati akan meminta maaf kepada ibunya yang tadi dimarahinya setelah sampai di
rumah nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar