Sabtu, 11 Oktober 2014

Ayam Khayalan



Menjelang  makan siang, seperti biasa Endro berhamburan pulang ke rumah untuk makan siang. Setelah seharian penuh Endro, Eko, Edi dan Baskoro bermain layang-layang di sawah di desa sebelah. Namun berbeda dengan hari biasanya karena Endro mengajak salah satu temannya, Eko, untuk makan siang bersama di rumah Endro. Sambil jalan, diapun berkata dalam hati, “Wah kira-kira menunya apa ya hari ini?, lebih enak dari ayam goreng kemarin gak ya!”.
Perutnya yang keroncongan membuat dia terburu-buru masuk sambil berlari ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Ekopun tergopoh-gopoh mengikuti Endro yang berlari kencang.
Eko sambil melirik Endro berkata, “Cepat benar larimu, kayak dikejar setan saja?”.
“Ah kamunya aja yang lamban, masak gitu aja napasmu ngos-ngosan, payah!!!”, sahut Endro. Tidak seperti biasanya. Biasanya mereka mengucapkan salam ketika mau masuk rumah.
Ibu yang sedang menggoreng tempe di dapur kaget sekali ketika ada bunyi pintu tertutup kerasa sekali.”Siapa itu, nutup pintu keras banget bikin kaget saja!” batin ibu.
Endro bergegas menuju depan lemari es tuk mengambil air dingin. Dia lupa bahwa Eko ikut pulang bersamanya. Eko ditinggal di ruang tamu sendirian. Ketika Endro ke ruang depan sambil mau nyantai dia baru sadar kalau Eko sedang tergletak di atas lantai dalam keadaan sadar. Karena malas berdiri Endro dari menyuruh Eko mengambil air minum sendiri di belakang.
Endro berkata,“ko, ambil minum sendiri ya, malas bendiri ni!”.
Eko menyahut,” ya elah, tega sekali kau!”.
Endropun menimpali, “Dah Pe-We ni, sorry, anggap rumah sendiri saja, ok”.
Ekopun menjawab, “Ok deh kalo gitu”.
Setelah setengah jam bersantai ria sambil dikipasi angin buatan, akhirnya Endro dan Eko pergi ke dapur tuk mencari ibunya. Endropun mencari tahu masakan apa yang dimasak ibunya hari ini. Eko hanya mengEkori Endro kemana Endro pergi. Seperti seorang prajurit yang mengkawal rajanya.  
Endro bertanya, “Masak apa bu?”.
“Hari ini masak sayur asem, dek”, ibu menjawab.
Ibu biasa memanggil Endro dengan panggilan adek karena Endro adalah anak nomer dua dari dua bersaudara. Seperti budaya orang zaman sekarang yang memanggil putra-putrinya dengan sebutan kakak dan adek dengan tujuan agar lebih halus didengar oleh mereka.
“Yah, sayur asem lagi. Terus lauknya apa bu?” Endro penasaran
Ibu menjawab,”lauknya tempe, tahu dan lele goreng sama sambal, dek”.
“Ya udah kalau gitu biar aku pergi saja, bosan aku makan itu-itu melulu”, Endro berkata sambil berlari diikuti Eko yang ada di belakangnya.
Ibupun tak bisa mencegah perginya Endro. Pun juga sudah dimaklumi kalau Endro sudah punya keinginan, pastilah sulit untuk dibendung, malahan bisa nangis tanpa henti dia. Ibu berdo’a dalam hatinya, “Ya Alloh yang Maha baik, berilah petunjuk kepada anakku, amin”.
Endro mengambil layang-layang yang tadi diletakkan di depan rumah sambil mengajak Eko.
“Ko, ayo kita main layang-layang lagi, aku gak jadi lapar ni”, kata Endro.
“Ok ndro”. Ekopun menuruti perintah Endro.
Setelah bergegas ke sawah mereka menerbangkan layang-layang mereka. Tinggi, tinggi sekali layang-layang itu diterbangkan. Sambil menerbangkan layan-layang Endro mencari tempat tuk berteduh dari matahari. Eko, sambil memegangi benang laying-layangnya, lagi-lagi ikutan membuntuti langkah Endro. Karena memang siang itu matahari sangat terik sekali.
Hampir satu jam mereka duduk di bawah pohon tuk cari udara segar sembari menunggui layang-layang yang mereka terbangkan. Eko dan Endro mendengar sesuatu.
“Krucuk, krucuk, krurucuk, suara apa itu ko”, kata Endro.
Sambil mendekatkan telinganya ke sumber suara, Eko berkata, “Itu suara perutmu ndro, kamu tu lagi kelaparan”.
“Terus gimana dong?”, Tanya Endro.
Eko sambil tertawa menjawab,”Ya makanlah ndro, hahaha”.
Endro menimpali, “iya ko, maksud aku makan dimana, masak di rumah. Lauknya kan gak enak, gak mau aku ah”.
Ekopun mengusulkan ide ke Endro,”Gimana kalo makan ke rumahku aja, mau ga?, tapi ya seadanya gitu, gimana?”
Tanpa pikir panjang, Endro mengiyakan ajakan Eko untuk makan siang di rumahnya. Layang-layang yang sedang terbang diturunkan semua untuk dibawa pulang.
Setelah berjalan lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumahnya Eko. Rumah sederhana, biasa dan bersih. Eko mengucapkan salam untuk masuk ke rumah.
“Assalamualikum”, ucap Eko.
Dijawab dari dapur,”Waalaikumsalam Wr Wb”
Eko masuk ke dalam rumah diikuti Endro. Dia langsung mencium tangan ibunya ketika melihat ibunya datang dari dapur. Endro sebagai tamu jadi ikutan menyalami tangan ibunya Eko.
“Ibu, Eko udah lapar ni, Eko pengen makan”, Eko merayu ibu.
“Itu ibu sudah siapkan makanannya, tadi nungguin kamu gak pulang-pulang. Ayo, makan bersama-sama biar ramai”, ibu berkata.
Tikar digelar. Makanan diambil dari dapur seperti nasi, sayur, lauk-pauk, krupuk dan es teh. Ibu, Eko dan Endro mengangkuti makanan menuju ruang tamu. Keluarga Eko biasa makan di ruang tamu, lesehan di atas lantai. Mereka mulai siap makan. Makanan seadanya pun dilahap habis oleh mereka bertiga. Pada hal sayur nya sayur asem, lauknya pun tempe, tahu dan telur. Tidak ada yang istimewa bagi Endro. Tapi saat itu Endro paling semangat menyantap makanan tersebut.
Setelah acara makan siang selesai. Semuanya dibersihkan dan di bawa ke dapur. Yang tersisa tinggal tikar yang digelar dan juga es teh. Selanjutnya mereka ngobrol ngidul tak tentu arah hingga muncul juga pertanyaan tentang kenapa Endro tidak jadi makan di rumah.
“Oh iya ndro, kenapa kamu gak jadi makan di rumahmu tadi?” Tanya Eko penasaran
“Lauknya gak enak, jadi aku gak mau makan di rumah. Kan malu juga sama kamu” jawab Endro
Ibu ikut gabung dalam obrolan,”emang tadi lauknya apa ndro, kok gak enak?”
 Endro menjawab, “Lauknya tempe, tahu dan lele goreng sama sambal”.
“Lhoh bukannya lebih gak enak di sini thow lauknya, di sini kan cuma lauk tempe, tahu dan telur goreng”, ibu menjelaskan. Setelah menghela napas Ibu melanjutkan,“makanan enak atau tidaknya itu bukan terletak pada makannya, akan tetapi terletak pada bagaimana cara kita melihat dan menyikapi adanya makanan tersebut”.
“Maksudnya gimana itu bu, makanan enak itu kok bagaimana cara kita melihat dan menyikapi adanya makanan tersebut?”, Tanya Eko semakin penasaran. Endro ikut serius memperhatikan.
Ibu menjelaskan,”maksudnya, kalau umpamanya makanan yang tersaji itu tempe kita bisa kan membayangkannya ayam. Atau misalnya adanya cuma tahu, kita melihatnya sebagai rizki yang dianugerahkan Allah kepada kita. Apakah kita mau menolaknya gara-gara kita tidak suka rizki tersebut?. Ibu melanjutkan,”Kalau ibu ngasih permen ke Eko, terus Eko menolak permen itu kira-kira ibu marah gak?”. Tanpa menunggu jawaban ibu meneruskan,”semua yang ada pada kita syukuri saja. Kalau kita ingin makan sesuatu yang gak ada dihadapan kita, itu namanya tamak, tidak tahu terima kasih”. “Ujung-ujungnya kalau mau merasakan makanan yang diinginkan, ya cukup dibayangkan saja makanannya. Menunya tempe tapi membayangkan ayam yang ada di sajian tersebut”. Ibu menambahkan.
Eko mengangguk-ngangguk. Sedangkan Endro hanya tertunduk diam dan dalam hati akan meminta maaf kepada ibunya yang tadi dimarahinya setelah sampai di rumah nanti.

Sedan, 30&31-07-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar