Jumat, 10 Oktober 2014

Kalbu/Qolbu, Tajir/Ghaani, Tausiah/Mau’idzoh



 Kalbu/Qolbu

Banyaknya kata serapan yang berasal dari bahasa asing membuat kita kebingungan untuk mencari artinya. Selain mencari arti, biasanya kita masih juga menggunakan ejaan yang salah bila dirujukkan pada kata asli serapan tersebut.
Salahnya ejaan yang digunakan bisa berakibat fatal bagi arti kata itu sendiri, meskipun  tujuan dari percakapanpun dapat ditangkap dengan menggunakan ejaan yang salah itu. Salah ejaan bisa berdampak pada arti kata tersebut. Seperti yang diungkapkan pepatah arab, “Arti kata, bahasa Arab, bisa berubah makna meski hanya kesalahan harakat dari salah satu huruf”.
Sering kita temui kata kalbu baik dalam percakapan maupun dalam literasi-literasi yang tertulis. Ada juga dengan ejaan Qolbu. Oleh karena itu, sangat menarik bila kata ini ditelusuri menuju ke sumber kata itu sendiri. Apa makna yang diinginkan oleh kata itu.
Kata Qolbu, dalam ejaan literasi yang kita temukan, mempunyai perbedaan makna dengan kata kalbu. Sangat jauh arti dari kedua kata tersebut. Bagai langit dan bumi. Qolbu dengan menggunakan Q mempunyai arti hati. Sedangkan Kalbu, menggunakan K, mempunyai arti yang sangat bersebrangan, yaitu Anjing. Sangat jauh bukan arti dari kedua kata tersebut.
Hal sangat menggelikan bila kita berniat mengatan ‘hati’ tapi yang terucap malah ‘Anjing’. Sangat rancu dan lucu bukan bila hal ini dilanjutkan hingga ke generasi anak cucu kita.  
Salahnya ejaan literartur ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena hal ini akan menjadi kebiasaan yang dianggap benar dan sulit untuk diluruskan. Adanya evaluasi dan perbaikan dari pakar bahasa sangat diperlukan bila kita menginginkan sebuah peradaban yang benar dan dihormati. Mari dimulai dari hal-hal kecil. Hal yang sangat langka untuk diperhatikan yaitu kata. 



Tajir/Ghaani 

Kata Tajir biasanya sering kita dapatkan dalam percakapan anak-anak muda perkotaan. Sangat jarang orang tua mengucapkan kata Tajir.
Kata tajir ini juga merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa arab. Kata ini, sengaja ataupun tidak, disalahartikan bila dikaitkan dengan arti sesungguhnya. Tidak telalu jauh memang kalau dilihat dari arti yang dikandung. Tapi apa salahnya bila arti kata ini kita benarkan artinya sesuai dengan arti kata yang sesungguhnya.
Tajir mempunyai arti pedagang, orang yang berdagang. Namun bila diartikan oleh generasi muda kita, kata ini berubah arti yaitu orang yang kaya. Ada yang mengatakan orang berdagang tujuannya adalah orang kaya jadi kata tajir, tidak masalah, bila diartikan orang kaya.  
Tidak terlalu jauh memang namun apa salahnya bila kita mengoreksi kesalahan-kesalahan ini agar tidak ada kerancuan mengartikan kata.

Tausiah/Mau’idzoh

Tanpa bosan disini masih membahas kata, kata kali ini akan mengupas kata Tausiah.
Biasanya kata tausiyah sering kita dengar diseputar jamaah pengajian baik di sekitar maupun di layar televisi kita. Apabila seseorang diharapkan memberikan ceramah biasanya sang pembawa acara menyebutkannya Tausiah. Pada hal bila kata ini diperdalam arti kata aslinya, maka hal ini akan menjadi lucu sekali. Biasanya kata ini digunakan di daerah kota maupun desa yang berada di jalur pantai selatan.
Tausiyah merupakan kata bentukan arab dari washoya yang artinya wasiat. Menurut KBBI edisi III (2010-2011) kata wasiat diartikan pesan terakhir yg disampaikan oleh orang yang akan meninggal (biasanya berkenaan dng harta kekayaan dsb). Nah, bagaimana mungkin orang yang harapannya memberikan ceramah disuruh untuk memberikan pesan terakhir sebelum meninggal. Ini sama halnya kita mengharapkan ustad tersebut memberikan kata-kata terakhir sebelum dipanggil oleh Sang penguasa jagad.
Selanjutnya solusi yang ditawarkan dalam tulisan ini untuk menggantikan kata wasiat itu adalah kata mau’idzoh. Maui’idzoh juga berasal dari bahasa arab. Namun kata inilah yang sangat pas bila digunakan untuk mempresentasikan kata ceramah. Bila menilik lebih dalam lagi kata mau’idzoh diartikan pitutur (baca; nasehat). Jadi dengan digunakannya kata ini ustad diharapkan memberikan nasehat kepada jamaah agar menyadari, mengamini dan melaksanakan bila hal yang disampaikan benar menurut akal dan juga kalam Ilahi.
Teman sekelas pernah mengatakan bahwasannya masalah kata tidak usah diributkan dan dipermasalahkan. Sungguh perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Bagaimana mungkin peradaban akan benar bila penggunaan kata salah ini masih dibudidayakan di lingkungan kita. Saya tidak habis pikir bila cara berfikir demikian dibenarkan oleh khalayak teman-teman sekelas.
Sangat berjauhan arti kedua kata ini. Dan saya kira kata ini harus segera disebarluaskan mengingat perbedaan arti yang sangat mencolok. Sangat menyakitkan bila ustad yang diharapkan memberi nasehat malah disuruh menyampaikan pesan-pesan terakhir. Ustad yang belum berkeinginan untuk dipanggil Tuhan diharapkan cepat berpulang di hadiratNya. Sungguh ironis bukan.
Ini merupakan sekelumit pembahasan kata yang bisa saya tawarkan kepada pembaca. Sesungguhnya masih banyak kata-kata serapan yang masih disalahartikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar