Kalbu/Qolbu
Banyaknya
kata serapan yang berasal dari bahasa asing membuat kita kebingungan untuk
mencari artinya. Selain mencari arti, biasanya kita masih juga menggunakan
ejaan yang salah bila dirujukkan pada kata asli serapan tersebut.
Salahnya
ejaan yang digunakan bisa berakibat fatal bagi arti kata itu sendiri,
meskipun tujuan dari percakapanpun dapat
ditangkap dengan menggunakan ejaan yang salah itu. Salah ejaan bisa berdampak
pada arti kata tersebut. Seperti yang diungkapkan pepatah arab, “Arti kata,
bahasa Arab, bisa berubah makna meski hanya kesalahan harakat dari salah satu
huruf”.
Sering
kita temui kata kalbu baik dalam percakapan maupun dalam literasi-literasi yang
tertulis. Ada juga dengan ejaan Qolbu. Oleh karena itu, sangat menarik bila
kata ini ditelusuri menuju ke sumber kata itu sendiri. Apa makna yang
diinginkan oleh kata itu.
Kata
Qolbu, dalam ejaan literasi yang kita temukan, mempunyai perbedaan makna dengan
kata kalbu. Sangat jauh arti dari kedua kata tersebut. Bagai langit dan bumi. Qolbu
dengan menggunakan Q mempunyai arti hati. Sedangkan Kalbu, menggunakan K, mempunyai
arti yang sangat bersebrangan, yaitu Anjing. Sangat jauh bukan arti dari kedua
kata tersebut.
Hal
sangat menggelikan bila kita berniat mengatan ‘hati’ tapi yang terucap malah
‘Anjing’. Sangat rancu dan lucu bukan bila hal ini dilanjutkan hingga ke
generasi anak cucu kita.
Salahnya ejaan literartur ini tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Karena hal ini akan menjadi kebiasaan yang dianggap benar dan
sulit untuk diluruskan. Adanya evaluasi dan perbaikan dari pakar bahasa sangat
diperlukan bila kita menginginkan sebuah peradaban yang benar dan dihormati. Mari
dimulai dari hal-hal kecil. Hal yang sangat langka untuk diperhatikan yaitu
kata.
Tajir/Ghaani
Kata
Tajir biasanya sering kita dapatkan dalam percakapan anak-anak muda perkotaan.
Sangat jarang orang tua mengucapkan kata Tajir.
Kata
tajir ini juga merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa arab. Kata ini,
sengaja ataupun tidak, disalahartikan bila dikaitkan dengan arti sesungguhnya.
Tidak telalu jauh memang kalau dilihat dari arti yang dikandung. Tapi apa
salahnya bila arti kata ini kita benarkan artinya sesuai dengan arti kata yang
sesungguhnya.
Tajir
mempunyai arti pedagang, orang yang berdagang. Namun bila diartikan oleh
generasi muda kita, kata ini berubah arti yaitu orang yang kaya. Ada yang
mengatakan orang berdagang tujuannya adalah orang kaya jadi kata tajir, tidak
masalah, bila diartikan orang kaya.
Tidak
terlalu jauh memang namun apa salahnya bila kita mengoreksi kesalahan-kesalahan
ini agar tidak ada kerancuan mengartikan kata.
Tausiah/Mau’idzoh
Tanpa
bosan disini masih membahas kata, kata kali ini akan mengupas kata Tausiah.
Biasanya
kata tausiyah sering kita dengar diseputar jamaah pengajian baik di sekitar
maupun di layar televisi kita. Apabila seseorang diharapkan memberikan ceramah
biasanya sang pembawa acara menyebutkannya Tausiah. Pada hal bila kata ini
diperdalam arti kata aslinya, maka hal ini akan menjadi lucu sekali. Biasanya
kata ini digunakan di daerah kota maupun desa yang berada di jalur pantai
selatan.
Tausiyah
merupakan kata bentukan arab dari washoya yang artinya wasiat. Menurut
KBBI edisi III (2010-2011) kata wasiat diartikan pesan terakhir yg disampaikan
oleh orang yang akan meninggal (biasanya berkenaan dng harta kekayaan dsb).
Nah, bagaimana mungkin orang yang harapannya memberikan ceramah disuruh untuk
memberikan pesan terakhir sebelum meninggal. Ini sama halnya kita mengharapkan
ustad tersebut memberikan kata-kata terakhir sebelum dipanggil oleh Sang
penguasa jagad.
Selanjutnya
solusi yang ditawarkan dalam tulisan ini untuk menggantikan kata wasiat itu
adalah kata mau’idzoh. Maui’idzoh juga berasal dari bahasa arab. Namun kata
inilah yang sangat pas bila digunakan untuk mempresentasikan kata ceramah. Bila
menilik lebih dalam lagi kata mau’idzoh diartikan pitutur (baca; nasehat). Jadi
dengan digunakannya kata ini ustad diharapkan memberikan nasehat kepada jamaah
agar menyadari, mengamini dan melaksanakan bila hal yang disampaikan benar
menurut akal dan juga kalam Ilahi.
Teman
sekelas pernah mengatakan bahwasannya masalah kata tidak usah diributkan dan
dipermasalahkan. Sungguh perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Bagaimana mungkin
peradaban akan benar bila penggunaan kata salah ini masih dibudidayakan di
lingkungan kita. Saya tidak habis pikir bila cara berfikir demikian dibenarkan
oleh khalayak teman-teman sekelas.
Sangat
berjauhan arti kedua kata ini. Dan saya kira kata ini harus segera
disebarluaskan mengingat perbedaan arti yang sangat mencolok. Sangat
menyakitkan bila ustad yang diharapkan memberi nasehat malah disuruh menyampaikan
pesan-pesan terakhir. Ustad yang belum berkeinginan untuk dipanggil Tuhan
diharapkan cepat berpulang di hadiratNya. Sungguh ironis bukan.
Ini merupakan sekelumit pembahasan kata yang
bisa saya tawarkan kepada pembaca. Sesungguhnya masih banyak kata-kata serapan
yang masih disalahartikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar