Tadi
malam(16/07/14), sambil menikmati hidangan berbuka puasa, tak sengaja saya
menonton tv. Selama bulan Ramadan ini biasanya program yang dihadirkan pasti
yang berkaitan dengan Islam. Semuanya bertema religius. Semuanya tampak agamis.
Begitulah bulan Ramadan, semuanya bisa disulap menjadi religius.
Semua
bintang tamunya berjilbab, yang perempuan, dan tema yang diangkatpun juga
berbau agama. Semuanya itu untuk menarik minat masyarakat agar menonton acara
tv tersebut. Hal ini juga termasuk salah satu metode untuk berjualan agar laku
di pasar. Memperdagangkan segala sesuatu yang sedang ramai dibicarakan atau
atmosfer yang sedang dialami oleh para konsumen.
Ada
yang menarik dari acara tadi malam. Acara yang dipandu seorang maestro magik
yaitu Deddy Cobuzier, Hitam Putih, sedang mengetengahkan tema berbagi perhatian
kepada sesama. Tema yang jarang diangkat. Narasumber yang diundangpun bukan
dari golongan artis yang menjadi pusat perhatian massa. Sehingga hal langka ini
menimbulkan kecurigaan dipikiran saya. Dia bernama pak Joko. Dia diundang di
acara ini karena dia mempunyai kegiatan langka, yaitu merawat dua puluh lima
anak kurang mampu.
Dia
yang hanya bekerja sebagai seorang supir mampu merawat dua puluh lima anak asuh
di rumahnya. Semua kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh Pak Joko. Mulai dari
kebutuhan sehari-hari hingga biaya sekolah mereka. Dia mengatakan bahwa untuk
menghidupi anak-anaknya, dia tidak mengemis untuk minta-minta uang kepada
siapapun. Namun anehnya ada dermawan yang memberikannya uang untuk membiayai
kebutuhan anak-anak tersebut.
Deddypun
penasaran, “Berapa biaya yang dikeuarkan untuk membiayai ke dua puluh lima anak
itu dalam waktu sebulan?”. Pak joko pun menjawab, ”Dalam sebulannya saya
menghabiskan uang lima belas juta rupiah”.
Ada lima
anak asuhnya yang dibawa ke stasiun tv swasta tersebut. Diantaranya ada yang bernama
Surya(21th) dan Ina(14th). Surya mengaku sudah ikut Pak Joko selama satu tahun.
Sedangkan Ina, berbeda dengan Joko, sudah agak lama yaitu sekitar lima tahun.
Kemudian, Deddy bertanya kepada anak asuhnya pak Joko. Pertanyaan ditujukan
kepada Surya, “Bagaimana sikap Pak Joko kepada kalian?”, Tanya Deddy. Suryapun
menjawab,” Dia, pak joko, sangatlah baik. Dia menganggap kami sebagai anaknya
sendiri”.
Seperempat
acara, sosok ustadpun dihadirkan di acara tersebut. Beliau adalah dosen di
salah satu kampus terkemuka di Jogja. Ustad Wijayanto. Beliau Ustad langganan
program ini. Beliau diundang untuk mengklarifikasi tentang peristiwa di luar
nalar manusia., yaitu perbuatan Pak Joko yang merawat dua puluh lima anak.
Ustad
menjelaskan bahwa ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diterima oleh nalar
manusia. Yaitu berkah dan rahmat. Berkah adalah ketika punya uang lima ratus
ribu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari selama sebulan. Menurut logika
uang sejumlah itu tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan,
namun dengan adanya berkah dari sedekah maka uang sejumlah itu dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sedekah
tidak bisa di matematikan. Kuasa Tuhan tidaklah bisa kalkulasikan. Hal ini
membuat orang modern sulit memahami fenomena seperti ini karena mereka biasanya
mempunyai konsep untung rugi jadi peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan
untung rugi pastilah ditolak akal mereka.
Acara
yang berdurasi empat puluh lima menit ini ternyata tidak sepenuhnya mengupas
kehidupan pak Joko. Persis seperti yang aku pikirkan. Yaitu ketika menjelang
separo program, si pemandu acara memanggil para artis. Ada tiga artis perempuan
yang dipanggil di panggung. Mereka ditanya mengenai fenomena aneh ini. Fenomena
yang tidak bisa diterima akal sehat.
Orang
modern tidak percaya bagaimana bisa seorang supir bisa menghidupi dua puluh
lima anak. Pada hal gaji seorang supir tidaklah seberapa. Logikanya gajinya
cuma cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan bisa kurang cukup. Mereka biasanya
lebih condong menggunakan nalarnya untuk menerima segala sesuatu sebelum
diterima oleh akal mereka.
Pada
hal sudah jelas dituliskan dalam kitab suci umat Islam bahwasannya barang siapa
memberi perhatian kepada kaum papa, maka Tuhan akan memperhatikannya atas
segala yang dibutuhkan. Sulit dipercaya bukan bila orang mengaku Islam tapi
dengan kitabnya sendiri masih diragukan keabsahan salah satu isinya.
Inilah
potret kemajuan zaman. Orang modern lebih mengutamakan lokiga dari pada iman.
Hal yang sangat bersebrangan. Harusnya akal digunakan sewajarnya dengan
dipagari Iman.
Sekarang
tinggal kita, apakah mau menjadi orang modern yang mendewakan akal fikiran tergerus
zaman ataukah orang modern yang tidak terbawa arus zaman ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar