Jumat, 10 Oktober 2014

Pudarnya Arti Berkah Sedekah



Tadi malam(16/07/14), sambil menikmati hidangan berbuka puasa, tak sengaja saya menonton tv. Selama bulan Ramadan ini biasanya program yang dihadirkan pasti yang berkaitan dengan Islam. Semuanya bertema religius. Semuanya tampak agamis. Begitulah bulan Ramadan, semuanya bisa disulap menjadi religius.
Semua bintang tamunya berjilbab, yang perempuan, dan tema yang diangkatpun juga berbau agama. Semuanya itu untuk menarik minat masyarakat agar menonton acara tv tersebut. Hal ini juga termasuk salah satu metode untuk berjualan agar laku di pasar. Memperdagangkan segala sesuatu yang sedang ramai dibicarakan atau atmosfer yang sedang dialami oleh para konsumen.
Ada yang menarik dari acara tadi malam. Acara yang dipandu seorang maestro magik yaitu Deddy Cobuzier, Hitam Putih, sedang mengetengahkan tema berbagi perhatian kepada sesama. Tema yang jarang diangkat. Narasumber yang diundangpun bukan dari golongan artis yang menjadi pusat perhatian massa. Sehingga hal langka ini menimbulkan kecurigaan dipikiran saya. Dia bernama pak Joko. Dia diundang di acara ini karena dia mempunyai kegiatan langka, yaitu merawat dua puluh lima anak kurang mampu.
Dia yang hanya bekerja sebagai seorang supir mampu merawat dua puluh lima anak asuh di rumahnya. Semua kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh Pak Joko. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya sekolah mereka. Dia mengatakan bahwa untuk menghidupi anak-anaknya, dia tidak mengemis untuk minta-minta uang kepada siapapun. Namun anehnya ada dermawan yang memberikannya uang untuk membiayai kebutuhan anak-anak tersebut.
Deddypun penasaran, “Berapa biaya yang dikeuarkan untuk membiayai ke dua puluh lima anak itu dalam waktu sebulan?”. Pak joko pun menjawab, ”Dalam sebulannya saya menghabiskan uang lima belas juta rupiah”. 
Ada lima anak asuhnya yang dibawa ke stasiun tv swasta tersebut. Diantaranya ada yang bernama Surya(21th) dan Ina(14th). Surya mengaku sudah ikut Pak Joko selama satu tahun. Sedangkan Ina, berbeda dengan Joko, sudah agak lama yaitu sekitar lima tahun. Kemudian, Deddy bertanya kepada anak asuhnya pak Joko. Pertanyaan ditujukan kepada Surya, “Bagaimana sikap Pak Joko kepada kalian?”, Tanya Deddy. Suryapun menjawab,” Dia, pak joko, sangatlah baik. Dia menganggap kami sebagai anaknya sendiri”. 
Seperempat acara, sosok ustadpun dihadirkan di acara tersebut. Beliau adalah dosen di salah satu kampus terkemuka di Jogja. Ustad Wijayanto. Beliau Ustad langganan program ini. Beliau diundang untuk mengklarifikasi tentang peristiwa di luar nalar manusia., yaitu perbuatan Pak Joko yang merawat dua puluh lima anak.      


Ustad menjelaskan bahwa ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diterima oleh nalar manusia. Yaitu berkah dan rahmat. Berkah adalah ketika punya uang lima ratus ribu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari selama sebulan. Menurut logika uang sejumlah itu tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan, namun dengan adanya berkah dari sedekah maka uang sejumlah itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.  
Sedekah tidak bisa di matematikan. Kuasa Tuhan tidaklah bisa kalkulasikan. Hal ini membuat orang modern sulit memahami fenomena seperti ini karena mereka biasanya mempunyai konsep untung rugi jadi peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan untung rugi pastilah ditolak akal mereka.
Acara yang berdurasi empat puluh lima menit ini ternyata tidak sepenuhnya mengupas kehidupan pak Joko. Persis seperti yang aku pikirkan. Yaitu ketika menjelang separo program, si pemandu acara memanggil para artis. Ada tiga artis perempuan yang dipanggil di panggung. Mereka ditanya mengenai fenomena aneh ini. Fenomena yang tidak bisa diterima akal sehat.
Orang modern tidak percaya bagaimana bisa seorang supir bisa menghidupi dua puluh lima anak. Pada hal gaji seorang supir tidaklah seberapa. Logikanya gajinya cuma cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan bisa kurang cukup. Mereka biasanya lebih condong menggunakan nalarnya untuk menerima segala sesuatu sebelum diterima oleh akal mereka.
Pada hal sudah jelas dituliskan dalam kitab suci umat Islam bahwasannya barang siapa memberi perhatian kepada kaum papa, maka Tuhan akan memperhatikannya atas segala yang dibutuhkan. Sulit dipercaya bukan bila orang mengaku Islam tapi dengan kitabnya sendiri masih diragukan keabsahan salah satu isinya.   
Inilah potret kemajuan zaman. Orang modern lebih mengutamakan lokiga dari pada iman. Hal yang sangat bersebrangan. Harusnya akal digunakan sewajarnya dengan dipagari Iman.
Sekarang tinggal kita, apakah mau menjadi orang modern yang mendewakan akal fikiran tergerus zaman ataukah orang modern yang tidak terbawa arus zaman ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar