Sabtu, 11 Oktober 2014

Rumahku adalah penjaraku



“Rumahku adalah surgaku”, begitulah pepatah arab mengatakan. Hal demikian benar adanya karena memang rumah merupakan tempat di mana anggota keluarga berkumpul. Ia juga merupakan tempat yang tepat untuk berbagi, bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Tentu di sini bukan surga yang diartikan segala sesuatu tersedia di rumah akan tetapi kenyamanan, kedamaian dan keharmonisan yang ditemukan di dalam rumah.      
Namun kini rumah bukan lagi surga seperti yang diucapkan oleh pepatah tersebut. Karena sekarang rumah hanya dijadikan tempat untuk membanggakan dan meningkatkatkan gengsi harga diri di hadapan tetangga. Rumah hanya diisi dengan barang-barang pemuas keinginan bukan kebutuhan. Mulai dari mahalnya sofa, karpet import yang lembut hingga mengkilapnya lampu-lampu hias yang dipasang di ruang tamu.
Ditambah lagi rumah yang diharapkan sebagai tempat interaksi antar anggota keluarga sudah tidak lagi ditemukan di zaman sekarang ini. Interaksi yang dulu terbangun sangat intensif, ada banyak waktu senggang dihabiskan bersama untuk diskusi, bercerita dan meski hanya sekedar bercanda antar anggota keluarga. Akan tetapi saat ini alasan sibuk menjadi prioritas para orang tua kurang interaksi dan memberi perhatian dengan anggota keluarganya. Sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga demi sang buah hati merupakan alasan yang sulit untuk disanggah.

Penjaraku

Dulu orang desa membangun rumah tanpa pagar dengan tujuan dapat bercakap dan menyapa tetangga yang lewat depan rumah meski hanya sekedar percakapan basa basi. Kalau toh ada tetangga yang mempunyai pagar tentunya pagar yang dibangun adalah pagar yang terbuat dari kayu yang berjajar yang sementara sifatnya yang bisa dipindah ketika ada hajatan di rumah tersebut. Selain kayu, pohon dan bunga menjadi pilihan orang desa untuk menjadi pagar di depan rumahnya. Karena tanaman tersebut dapat menambah keindahan yang terdapat di rumah tersebut. Tapi diakui ataupun tidak hal itulah yang bisa mengakrabkan antara satu penduduk dengan penduduk lainnya. Adanya perhatian dari tetangga, yang tak berlebih, inilah yang membuat betah untuk tinggal berlama-lama di desa.    
Pernah suatu ketika saya mempunyai tetangga yang sangat merindukan rumahnya untuk dikunjungi oleh orang lain. Karena dia beranggapan bahwasanya rumah yang sering dikunjungi oleh orang lain berarti rumah itu adalah rumah yang terberkati. Semakin terberkati rumah rumah tersebut semakin Tuhan menganugerahkan rahmatnya ke dalam rumah dan anggota keluarga tersebut. Sehingga hal inilah yang membuat tetangga saya mendambakan rumahnya dikunjungi. 
Berbeda dengan desa, Modern merupakan tempat dimana tingkat mementingkan diri sendiri sangatlah tinggi. Terbukti dengan langkanya etos kerja bersama atau gotong royong yang difungsikan bukan hanya bekerja bersama akan tetapi sebagai forum bertemu antara satu tetangga dengan tetangga lain. Selain itu sangat sulit mengetahui nama tetangga sebelah yang hanya berjarak dua hingga tiga meter karena kurang intensifnya bertemu dan bercakap-cakap. 
Tingginya tingkat mementingkan diri sendiri orang Modern ini diwujudkan dengan membangunnya tembok yang tinggi dan tebal. Mereka mengambil rujukan dari bangsa eropa yang berupa rumah benteng. Hal ini sangatlah mempengaruhi intensitas interaksi antar si tuan rumah dengan tetangga sekitar. Mereka berbuat demikian karena mereka sudah kehilangan kepercayaan kepada orang yang lewat dan tetangga. Selain itu mereka sangat khwatir jika harta yang dimiliki diambil oleh pencuri. 
Selain tebal dan tingginya benteng, biasanya orang Modern menjadikan hewan sebagai perwakilan untuk menjaga isi rumah. Maka tak heran sering dijumpai di depan pagar rumah tersebut tempelan tulisan AWAS ADA ANJING GALAK!!!!.    
Akan tetapi sekarang ini desa telah merangkak menjadi Modern. Banyak orang berlomba-lomba meninggikan pagar rumah dengan tujuan, yang sering diutarakan adalah, untuk melindungi rumah dari pencurian. Orang desa kini sudah memiliki pandangan bahwasannya orang modern itu lebih maju dari pada orang desa. Beginilah jadinya jika budaya kota yang berasal dari barat yang masuk tanpa filter akan membawa dampak negatif keberlangsungan kehidupan yang terdapat di desa. Akan tetapi secara langsung dan sadar, hal itu telah membuat penghalang ataupun batas proses interaksi antara keluarga dengan lingkungan sekitar.  
Oleh karena itu dengan adanya pagar yang tinggi ini pagar bagaikan penjara karena semakin tinggi dan tebal pagar semakin membuat jarak dan kesombongan yang terbangun diantara keluarga dan warga yang ada disekitar semakin terlihat jelas dan nyata.

     

07-10-‘14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar