“Rumahku
adalah surgaku”, begitulah pepatah
arab mengatakan. Hal demikian benar adanya karena memang rumah merupakan tempat
di mana anggota keluarga berkumpul. Ia juga merupakan tempat yang tepat untuk berbagi,
bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Tentu di sini bukan surga yang
diartikan segala sesuatu tersedia di rumah akan tetapi kenyamanan, kedamaian dan
keharmonisan yang ditemukan di dalam rumah.
Namun
kini rumah bukan lagi surga seperti yang diucapkan oleh pepatah tersebut. Karena
sekarang rumah hanya dijadikan tempat untuk membanggakan dan meningkatkatkan
gengsi harga diri di hadapan tetangga. Rumah hanya diisi dengan barang-barang
pemuas keinginan bukan kebutuhan. Mulai dari mahalnya sofa, karpet import yang
lembut hingga mengkilapnya lampu-lampu hias yang dipasang di ruang tamu.
Ditambah
lagi rumah yang diharapkan sebagai tempat interaksi antar anggota keluarga
sudah tidak lagi ditemukan di zaman sekarang ini. Interaksi yang dulu terbangun
sangat intensif, ada banyak waktu senggang dihabiskan bersama untuk
diskusi, bercerita dan meski hanya sekedar bercanda antar anggota keluarga.
Akan tetapi saat ini alasan sibuk menjadi prioritas para orang tua kurang
interaksi dan memberi perhatian dengan anggota keluarganya. Sibuk mencari uang
untuk memenuhi kebutuhan keluarga demi sang buah hati merupakan alasan yang
sulit untuk disanggah.
Penjaraku
Dulu
orang desa membangun rumah tanpa pagar dengan tujuan dapat bercakap dan menyapa
tetangga yang lewat depan rumah meski hanya sekedar percakapan basa basi. Kalau
toh ada tetangga yang mempunyai pagar tentunya pagar yang dibangun adalah pagar
yang terbuat dari kayu yang berjajar yang sementara sifatnya yang bisa dipindah
ketika ada hajatan di rumah tersebut. Selain kayu, pohon dan bunga menjadi
pilihan orang desa untuk menjadi pagar di depan rumahnya. Karena tanaman
tersebut dapat menambah keindahan yang terdapat di rumah tersebut. Tapi diakui
ataupun tidak hal itulah yang bisa mengakrabkan antara satu penduduk dengan
penduduk lainnya. Adanya perhatian dari tetangga, yang tak berlebih, inilah
yang membuat betah untuk tinggal berlama-lama di desa.
Pernah
suatu ketika saya mempunyai tetangga yang sangat merindukan rumahnya untuk
dikunjungi oleh orang lain. Karena dia beranggapan bahwasanya rumah yang sering
dikunjungi oleh orang lain berarti rumah itu adalah rumah yang terberkati.
Semakin terberkati rumah rumah tersebut semakin Tuhan menganugerahkan rahmatnya
ke dalam rumah dan anggota keluarga tersebut. Sehingga hal inilah yang membuat
tetangga saya mendambakan rumahnya dikunjungi.
Berbeda
dengan desa, Modern merupakan tempat dimana tingkat mementingkan diri sendiri
sangatlah tinggi. Terbukti dengan langkanya etos kerja bersama atau gotong
royong yang difungsikan bukan hanya bekerja bersama akan tetapi sebagai forum
bertemu antara satu tetangga dengan tetangga lain. Selain itu sangat sulit
mengetahui nama tetangga sebelah yang hanya berjarak dua hingga tiga meter
karena kurang intensifnya bertemu dan bercakap-cakap.
Tingginya
tingkat mementingkan diri sendiri orang Modern ini diwujudkan dengan
membangunnya tembok yang tinggi dan tebal. Mereka mengambil rujukan dari bangsa
eropa yang berupa rumah benteng. Hal ini sangatlah mempengaruhi intensitas
interaksi antar si tuan rumah dengan tetangga sekitar. Mereka berbuat demikian
karena mereka sudah kehilangan kepercayaan kepada orang yang lewat dan
tetangga. Selain itu mereka sangat khwatir jika harta yang dimiliki diambil
oleh pencuri.
Selain
tebal dan tingginya benteng, biasanya orang Modern menjadikan hewan sebagai
perwakilan untuk menjaga isi rumah. Maka tak heran sering dijumpai di depan
pagar rumah tersebut tempelan tulisan AWAS ADA ANJING GALAK!!!!.
Akan
tetapi sekarang ini desa telah merangkak menjadi Modern. Banyak orang
berlomba-lomba meninggikan pagar rumah dengan tujuan, yang sering diutarakan
adalah, untuk melindungi rumah dari pencurian. Orang desa kini sudah memiliki
pandangan bahwasannya orang modern itu lebih maju dari pada orang desa.
Beginilah jadinya jika budaya kota yang berasal dari barat yang masuk tanpa
filter akan membawa dampak negatif keberlangsungan kehidupan yang terdapat di
desa. Akan tetapi secara langsung dan sadar, hal itu telah membuat penghalang ataupun
batas proses interaksi antara keluarga dengan lingkungan sekitar.
Oleh
karena itu dengan adanya pagar yang tinggi ini pagar bagaikan penjara karena semakin
tinggi dan tebal pagar semakin membuat jarak dan kesombongan yang terbangun
diantara keluarga dan warga yang ada disekitar semakin terlihat jelas dan nyata.
07-10-‘14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar